
Memiliki dana menganggur sebesar Rp 100 juta tentu membuka berbagai peluang investasi yang menarik. Salah satu instrumen yang paling aman dan populer di kalangan masyarakat Indonesia untuk memutar uang tersebut adalah deposito berjangka.
Namun, pertanyaan mendasar yang sering muncul bagi pemula adalah, deposito 100 juta dapat bunga berapa per bulan? Mengetahui estimasi keuntungan secara akurat sangat penting agar Anda bisa merencanakan arus kas keuangan dengan lebih presisi dan realistis.
Memahami Aturan Main dan Pajak Deposito
Sebelum menghitung nominal keuntungan, Anda wajib memahami aturan dasar deposito di Indonesia. Bunga deposito yang Anda lihat di brosur bank adalah suku bunga per tahun (per annum atau p.a.), bukan per bulan.
Selain itu, keuntungan deposito tidak masuk ke kantong Anda secara utuh. Pemerintah mengenakan pajak penghasilan (PPh) final sebesar 20% atas bunga deposito. Aturan pemotongan pajak ini berlaku untuk penempatan dana deposito yang nilainya lebih dari Rp 7,5 juta.
Karena dana yang Anda tempatkan adalah Rp 100 juta, maka seluruh imbal hasil yang Anda terima secara otomatis akan dipotong pajak 20% oleh pihak bank.
Rumus Dasar Menghitung Bunga Deposito
Untuk mengetahui pendapatan bersih setiap bulan, Anda perlu menghitung total bunga setahun, memotongnya dengan pajak, lalu membaginya dalam 12 bulan. Rumus sederhananya adalah:
(Penempatan Dana x Suku Bunga per Tahun x 80%) / 12 Bulan
Angka 80% dalam rumus tersebut mewakili hasil bersih setelah keuntungan Anda dipotong pajak final sebesar 20%.
Simulasi: Deposito 100 Juta Dapat Bunga Berapa per Bulan?
Tingkat suku bunga sangat bergantung pada jenis institusi keuangan tempat Anda menaruh dana. Saat ini, perbankan di Indonesia terbagi dalam beberapa kategori yang menawarkan return berbeda.
Berikut adalah tabel estimasi keuntungan bersih per bulan dari deposito Rp 100 juta berdasarkan jenis bank:
Jenis Bank | Estimasi Bunga (p.a.) | Perhitungan (Setelah Pajak) | Bunga Bersih per Bulan |
|---|---|---|---|
Bank Umum / Besar | 3,00% | (Rp 100 Juta x 3% x 80%) / 12 | ± Rp 200.000 |
Bank Digital | 4,50% | (Rp 100 Juta x 4,5% x 80%) / 12 | ± Rp 300.000 |
BPR (Bank Perekonomian Rakyat) | 6,75% | (Rp 100 Juta x 6,75% x 80%) / 12 | ± Rp 450.000 |
Catatan: Angka di atas adalah estimasi dasar. Beberapa bank digital mungkin menawarkan bunga promo hingga 6% atau lebih.
Faktor Penentu Besaran Bunga Anda
Besaran uang yang Anda terima setiap bulannya tidak bersifat mutlak. Ada beberapa variabel krusial yang menentukan seberapa besar bunga deposito yang akan Anda kantongi.
Berikut adalah faktor-faktor yang wajib Anda perhatikan:
Pemilihan Tenor: Biasanya, bank memberikan tawaran suku bunga yang lebih tinggi jika Anda bersedia mengunci dana dalam tenor yang lebih lama (misalnya 12 atau 24 bulan).
Kebijakan Suku Bunga Acuan: Bunga deposito perbankan sangat dipengaruhi oleh fluktuasi BI Rate (suku bunga acuan Bank Indonesia). Jika BI Rate naik, bunga deposito umumnya ikut naik.
Program Promosi Bank: Bank digital sering kali melakukan bakar uang dengan memberikan suku bunga promo tinggi untuk menarik nasabah baru.
Waspada Limit Penjaminan LPS
Mencari bunga deposito tertinggi memang hal yang wajar. Akan tetapi, Anda tidak boleh mengabaikan faktor keamanan dana.
Pemerintah melalui Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menjamin dana nasabah hingga Rp 2 miliar per nasabah per bank. Namun, jaminan ini hanya berlaku jika suku bunga simpanan Anda tidak melebihi Tingkat Bunga Penjaminan LPS yang berlaku.
Saat ini, batas penjaminan LPS umumnya berada di angka 4,25% untuk Bank Umum dan 6,75% untuk BPR. Jika Anda menerima bunga 8% dari sebuah bank digital, maka dana Rp 100 juta tersebut berstatus tidak dijamin oleh LPS jika bank tersebut bangkrut.
Kesimpulan
Jadi, deposito 100 juta dapat bunga berapa per bulan? Jawabannya berkisar antara Rp 200.000 hingga Rp 450.000 bersih setiap bulannya. Angka pastinya sangat bergantung pada apakah Anda memilih bank umum tradisional, bank digital, atau Bank Perekonomian Rakyat (BPR).
Bagi Anda yang mengutamakan keamanan absolut, bank besar adalah pilihan yang tepat meski bunganya konservatif. Namun, jika Anda ingin memaksimalkan passive income setiap bulan dengan risiko yang terukur, BPR atau bank digital bisa menjadi alternatif yang cerdas selama masih sesuai dengan batas penjaminan LPS.