Table of Content

Gen Z Indonesia Lebih Pilih Healing dan Investasi daripada Menabung untuk Dana Pensiun

Kenapa Gen Z Indonesia lebih pilih healing dan investasi mandiri daripada nabung demi dana pensiun? Ini data, instrumen, dan platform terbarunya.
Pilih Healing dan Investasi daripada Menabung untuk Dana Pensiun

Zaim (24) baru saja menerima gaji pertamanya sebagai staff Ekspor Impor di perusahaan rintisan yang berlokasi di Boyolali. Seharunya bisa menyisihkan sebagian untuk tabungan konvensional, namun Zaim justru membagi penghasilannya ke tiga pos: dana darurat, reksa dana pasar uang, dan satu amplop kecil bertuliskan "healing fund". 

Baginya, menunggu masa tua hanya untuk menikmati hidup terasa seperti judi yang terlalu berisiko. "Kalau nunggu pensiun buat healing, keburu capek duluan," katanya sambil tertawa.

Cerita Zaim bukan kasus tunggal. Di berbagai kota besar Indonesia, pola pikir semacam ini mulai menjadi arus utama di kalangan gen z. Mereka tumbuh di tengah ketidakpastian ekonomi, isu pemutusan hubungan kerja, dan keraguan besar terhadap sistem jaminan hari tua yang selama ini diandalkan generasi sebelumnya. 

Akhirnya muncul fenomena baru: gen z lebih memilih perpaduan antara investasi mandiri dan momen "healing" daripada menabung secara kaku demi dana pensiun di masa depan yang belum tentu bisa mereka nikmati.


Gen Z Kini Mendominasi Pasar Modal Indonesia

Data menjadi bukti paling nyata dari pergeseran ini. Berdasarkan catatan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per November 2025, dari total 19,32 juta investor pasar modal di Indonesia, lebih dari separuhnya atau sekitar 54,20 persen berusia di bawah 30 tahun. 

Angka ini bahkan terus melonjak. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, hingga April 2026, jumlah investor pasar modal nasional telah menembus 26,49 juta orang, tumbuh lebih dari 30 persen secara year to date, dengan hampir 80 persen di antaranya berasal dari kelompok usia di bawah 30 tahun.

Artinya, investasi gen z bukan lagi sekadar tren musiman yang muncul saat pandemi lalu menghilang. Fenomena ini sebagai wujud pergeseran struktural. Gen Z Indonesia kini menganggap investasi untuk pemula sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari. 

Mirip seperti membuka aplikasi belanja online atau memesan makanan lewat ojek daring. Modal yang dibutuhkan bahkan semakin terjangkau, bisa mulai dari Rp10.000 saja, siapa pun sudah bisa memiliki portofolio yang dulunya hanya bisa diakses kalangan menengah ke atas.


Kenapa Gen Z Ragu dengan Jaminan Hari Tua Konvensional?

Data dan informasi terbaru dari media massa menampilkan keraguan generasi muda Inggris terhadap keberlangsungan state pension mereka ternyata serupa seperti di Indonesia. 

Meski dengan konteks berbeda. Sistem jaminan hari tua bertumpu pada kombinasi BPJS Ketenagakerjaan (Jaminan Hari Tua dan Jaminan Pensiun) serta Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) yang sifatnya sukarela. Masalahnya, riset Jakpat dan Lintar Financial menunjukkan mayoritas gen z dan milenial mengaku belum siap menghadapi masa pensiun, bahkan 56 persen Generasi X yang usianya jauh lebih matang pun merasakan hal serupa.

Survei Bank of America turut memperkuat gambaran ini secara global: hanya 15 persen gen z yang rutin menyisihkan sebagian gajinya untuk ditabung. 

Hanya satu dari lima yang sudah memiliki simpanan dana pensiun dalam bentuk apa pun. Sementara itu, survei Deloitte Global 2025 Gen Z and Millennial Survey yang dirilis awal 2026 mengungkap lebih dari 48 persen gen z merasa tidak aman secara finansial, naik tajam dibanding tahun-tahun sebelumnya yang masih berkisar 30 persen. 

Tekanan biaya hidup, upah minimum yang di banyak provinsi masih di bawah standar Kebutuhan Hidup Layak, serta minimnya literasi keuangan membuat banyak gen z merasa sistem lama tidak lagi relevan untuk mereka.

"Gimana mau nabung buat pensiun, wong buat hidup sehari-hari aja udah pas-pasan," ujar salah satu responden dalam survei literasi keuangan yang banyak beredar di kalangan pekerja muda perkotaan.

 

Fenomena "Healing" Bukan Berarti Anti Investasi

Narasi bahwa gen z boros dan gemar healing sehingga sulit menabung sebenarnya perlu diluruskan. Survei GoodStats menunjukkan gambaran yang lebih berimbang: 75 persen gen z mengalokasikan gaji untuk kebutuhan makan, namun 63 persen tetap menyisihkan uang untuk tabungan dan investasi, sementara 56 persen dialokasikan untuk hiburan. 

Artinya, kebiasaan self-reward dan healing berjalan beriringan dengan kesadaran finansial, bukan menggantikannya sepenuhnya.

Yang membedakan gen z dari generasi sebelumnya adalah cara mereka memaknai keseimbangan hidup. Mereka tidak mau menunda seluruh kebahagiaan hingga usia 60 tahun, tetapi juga sadar bahwa masa depan finansial tetap harus disiapkan. 

Fenomena "grown-up gap year" atau yang di Indonesia mulai dikenal sebagai pensiun mini turut menggambarkan pola ini, GEN Z mengambil jeda karier untuk healing, mengisi ulang energi, sambil tetap menjalankan strategi investasi jangka panjang di latar belakang lewat fitur auto-invest di berbagai aplikasi.

Instrumen Investasi Favorit Gen Z Indonesia

Berbeda dari generasi sebelumnya yang cenderung mengandalkan tabungan bank atau deposito, gen z kini punya lebih banyak pilihan instrumen yang bisa disesuaikan dengan profil risiko dan tujuan finansial masing-masing.

Reksa Dana Pasar Uang (RDPU)

Instrumen ini menjadi pintu masuk paling populer karena risikonya rendah, likuid, dan cocok dijadikan tempat parkir dana darurat sekaligus latihan awal sebelum masuk ke instrumen yang lebih agresif. Modal awal yang sangat terjangkau membuat reksa dana pasar uang banyak dipilih pemula yang baru belajar mengelola uang.

Emas Digital

Di tengah pelemahan nilai tukar rupiah dan gejolak pasar saham, emas kembali naik daun dalam versi digital. Modal mulai dari Rp1.000 hingga Rp10.000 sudah cukup untuk mulai menabung emas, dengan kepemilikan yang didukung emas fisik di lembaga kustodian resmi. Instrumen ini dianggap cocok untuk tujuan jangka menengah-panjang seperti dana pendidikan, biaya pernikahan, atau cadangan dana pensiun awal.

Saham

Setelah terbiasa dengan reksa dana, banyak gen z mulai beralih ke saham individual demi potensi imbal hasil yang lebih besar. 

Mereka dikenal lebih analitis, sering memantau tren pasar lewat media sosial dan konten edukasi finansial, meski risiko ikut-ikutan tren tanpa riset mendalam (FOMO) masih menjadi tantangan tersendiri.

Surat Berharga Negara (SBN Ritel)

Obligasi pemerintah ini mulai dilirik sebagai alternatif yang lebih stabil, dengan imbal hasil kompetitif dan risiko gagal bayar yang sangat minim karena dijamin negara. 

Instrumen ini kerap direkomendasikan sebagai pelengkap portofolio bagi mereka yang mulai memikirkan dana pensiun secara serius sejak usia muda.

Aset Kripto

Sebagai generasi digital native, gen z merasa dekat dengan teknologi blockchain. Meski potensi keuntungannya tinggi, volatilitasnya juga ekstrem, sehingga OJK dan Bappebti terus mengingatkan agar instrumen ini hanya diisi dengan "uang dingin" alias dana yang tidak dibutuhkan dalam waktu dekat.


Platform Investasi yang Banyak Digunakan Gen Z

Kemudahan akses menjadi faktor utama yang mendorong minat investasi gen z semakin tinggi. Beberapa platform yang paling banyak digunakan antara lain:

  • Bibit : fokus pada reksa dana dengan fitur robo advisor berbasis AI yang merekomendasikan alokasi aset sesuai profil risiko, kini juga menyediakan SBN dan emas digital.
  • Bareksa : platform reksa dana dan SBN yang dilengkapi fitur menabung untuk tujuan spesifik, termasuk produk syariah.
  • Ajaib, Stockbit, dan IPOT : pilihan populer untuk transaksi saham dengan tampilan visual yang ramah bagi investor pemula.
  • Pluang : dikenal sebagai platform multi-aset yang menggabungkan emas digital, saham AS, reksa dana, dan kripto dalam satu aplikasi.
  • Pintu dan Indodax : dua nama besar untuk transaksi aset kripto yang sudah terdaftar resmi di OJK dan Bappebti.
  • Fitur emas digital di dompet elektronik seperti DANA dan GoPay (GoInvestasi) : memudahkan investasi mikro langsung dari saldo e-wallet yang sudah akrab digunakan sehari-hari.

Semua platform tersebut menekankan kemudahan: proses pembukaan akun cepat, minimum setoran rendah, dan antarmuka yang tidak membuat pengguna merasa sedang berhadapan dengan dunia keuangan yang rumit. 

OJK turut mendorong kebiasaan ini lewat program PINTAR (Investasi Terencana dan Berkala) yang diluncurkan pada 2026 untuk membudayakan investasi jangka panjang secara berkala di kalangan investor pemula.

Perbandingan Singkat Platform Investasi Populer

Agar lebih mudah menentukan pilihan, berikut gambaran singkat karakteristik masing-masing platform yang paling sering digunakan gen z untuk memulai investasi untuk pemula:

Platform Fokus Instrumen Cocok untuk
Bibit Reksa dana, SBN, emas Pemula yang ingin robo advisor otomatis
Bareksa Reksa dana, SBN, emas Investasi bertujuan khusus (umrah, pendidikan)
Ajaib / Stockbit / IPOT Saham, reksa dana Yang ingin belajar analisis saham
Pluang Emas digital, saham AS, kripto, reksa dana Diversifikasi multi-aset dalam satu aplikasi
Pintu / Indodax Aset kripto Yang memahami risiko tinggi aset digital

Sebelum memilih, pastikan platform yang digunakan sudah terdaftar dan diawasi resmi oleh OJK maupun Bappebti. Legalitas ini penting agar dana yang disetorkan benar-benar aman dan terpisah dari operasional perusahaan penyedia aplikasi.


Peran Media Sosial dalam Membentuk Kebiasaan Finansial Gen Z

Media sosial memegang peran besar dalam membentuk cara pandang gen z terhadap uang. Konten edukasi finansial di TikTok dan YouTube membuat istilah-istilah rumit seperti dividen, capital gain, atau dollar cost averaging menjadi lebih mudah dicerna dibanding penjelasan buku teks konvensional. 

Di sisi lain, algoritma yang sama juga menampilkan konten gaya hidup healing, staycation estetik, hingga tren belanja impulsif yang mendorong perilaku FOMO.

Dua arus informasi yang bertolak belakang ini membuat gen z harus lebih selektif memilah mana konten yang benar-benar mendukung tujuan finansial jangka panjang dan mana yang sekadar hiburan sesaat. 

Riset menunjukkan pengaruh sosial, termasuk rekomendasi dari teman sebaya maupun figur publik di media sosial, menjadi salah satu faktor paling signifikan yang mendorong keputusan seseorang untuk mulai menabung dan berinvestasi sejak usia muda.

Literasi Keuangan Masih Jadi Pekerjaan Rumah

Meski antusiasme terhadap investasi terus meningkat, bukan berarti seluruh gen z Indonesia sudah paham betul cara mengelola uang. Banyak yang masih terjebak gaya hidup konsumtif akibat pengaruh media sosial dan skema paylater, sehingga sebagian dari mereka justru tercatat sebagai penyumbang kredit macet pinjaman daring yang cukup tinggi. 

Riset OJK menyoroti bahwa indeks literasi keuangan nasional masih perlu ditingkatkan, sementara istilah-istilah dasar seperti "dividen" atau "reksa dana" pun masih terdengar asing bagi sebagian kalangan gen z.

Di sinilah pentingnya edukasi finansial sejak dini. Kebiasaan menabung yang konsisten, sekecil apa pun nominalnya, akan jauh lebih berdampak jika dilakukan sejak usia 20-an dibanding menunda hingga mendekati usia pensiun. 

Prinsip compounding atau bunga berbunga membuat waktu menjadi aset paling berharga bagi generasi muda.Ssemakin dini mulai, semakin besar potensi pertumbuhan asetnya di masa depan.

Menyeimbangkan Healing dan Dana Pensiun: Strategi Praktis

Bagi gen z yang ingin tetap menikmati hidup tanpa mengorbankan masa depan finansial, beberapa langkah berikut bisa dijadikan panduan:

Pisahkan rekening sesuai fungsinya

Buat rekening khusus untuk dana darurat, satu untuk investasi jangka panjang, dan satu lagi untuk kebutuhan self-reward atau healing. Pemisahan ini membantu mencegah uang "tercampur" dan habis tanpa terasa.

Manfaatkan fitur auto-invest

Sebagian besar platform investasi kini menyediakan fitur investasi rutin otomatis, sehingga kebiasaan menabung dan berinvestasi berjalan tanpa perlu mengandalkan disiplin manual setiap bulan.

Mulai dari instrumen risiko rendah

Bagi pemula, reksa dana pasar uang atau emas digital bisa menjadi titik awal sebelum mengeksplorasi saham atau kripto yang volatilitasnya lebih tinggi.

Jangan abaikan dana pensiun formal

Selain investasi mandiri, ikut serta secara aktif dalam program Jaminan Hari Tua dan Jaminan Pensiun BPJS Ketenagakerjaan, atau menambah DPLK secara sukarela, tetap penting sebagai jaring pengaman tambahan di luar portofolio pribadi.

Anggarkan healing secara sadar, bukan impulsif

Menyisihkan dana khusus untuk liburan atau self-reward bukan hal yang salah, selama nominalnya direncanakan dan tidak mengganggu pos investasi maupun dana darurat.


Tanya Jawab Seputar Investasi dan Dana Pensiun Gen Z

Apakah gen z perlu punya dana pensiun sejak usia 20-an?

Sangat disarankan. Semakin dini mulai, semakin besar manfaat compounding atau bunga berbunga yang bisa dinikmati. Menyiapkan dana pensiun sejak muda juga mengurangi beban menabung dalam jumlah besar di usia mendekati masa purnakarya.

Berapa persen gaji yang idealnya dialokasikan untuk investasi?

Tidak ada angka baku, tetapi banyak perencana keuangan merekomendasikan minimal 10-20 persen dari penghasilan bulanan untuk pos investasi dan menabung, sisanya dibagi untuk kebutuhan pokok, cicilan, dan hiburan termasuk healing.

Apakah reksa dana pasar uang cukup untuk dana pensiun jangka panjang?

Reksa dana pasar uang lebih cocok untuk dana darurat atau tujuan jangka pendek karena imbal hasilnya relatif rendah. Untuk tujuan pensiun jangka panjang, kombinasi dengan reksa dana saham, saham individual, atau emas digital umumnya lebih optimal untuk mengejar pertumbuhan aset.

Apakah aman berinvestasi lewat aplikasi fintech?

Aman selama platform yang digunakan resmi terdaftar dan diawasi oleh OJK atau Bappebti. Selalu periksa legalitas aplikasi sebelum menyetorkan dana untuk menghindari risiko investasi ilegal atau penipuan berkedok investasi.

Kesimpulan

Fenomena gen z yang lebih memilih healing dan investasi mandiri daripada menabung demi dana pensiun konvensional, sebenarnya mencerminkan adaptasi generasi ini terhadap realitas ekonomi yang jauh berbeda dari generasi sebelumnya. 

Data KSEI dan OJK menunjukkan optimisme besar: partisipasi gen z dalam pasar modal Indonesia terus tumbuh dan menjadi motor utama penambahan investor baru. 

Namun di balik antusiasme itu, tantangan literasi keuangan tetap menjadi pekerjaan rumah bersama.

Kabar baiknya, gen z Indonesia sebenarnya tidak anti terhadap masa depan. Mereka hanya ingin menjalani hidup dengan keseimbangan, merancang dana pensiun sejak dini tanpa harus menunda seluruh kebahagiaan hingga usia senja. 

Dengan kombinasi literasi keuangan yang memadai, disiplin menabung, dan pemanfaatan platform investasi untuk pemula yang kini semakin mudah diakses, generasi ini punya peluang besar untuk membentuk ulang makna "masa tua yang aman secara finansial" versi mereka sendiri.

Posting Komentar