Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta Pusat menjatuhkan vonis 10 tahun penjara pada hari Selasa, 30 Juni 2026 kepada mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) periode 2019-2024, Nadiem Anwar Makarim.
Dalam kasus korupsi pengadaan laptop Chromebook. Majelis hakim menyatakan Nadiem terbukti menyalahgunakan kewenangan dalam program digitalisasi pendidikan yang merugikan keuangan negara hingga triliunan rupiah.
Kabar ini kembali membuat publik penasaran dengan sosok perangkat yang menjadi pusat perkara: seperti apa sebenarnya spesifikasi Chromebook yang dibeli pemerintah, berapa harga Chromebook per unitnya, dan mengapa laptop berbasis Chrome OS ini begitu identik dengan program digitalisasi sekolah di era kepemimpinannya?
Artikel ini akan mengulas tuntas Chromebook Kemendikbud dari sisi teknis maupun konteks historisnya, mulai dari spesifikasi resmi yang dipakai dalam pengadaan, sejarah kelahiran laptop Chromebook oleh Google, negara-negara yang berhasil mengadopsinya secara masif, kelebihan dan kekurangannya, hingga bagaimana wujud Chromebook Plus generasi terbaru di tahun 2026.
Latar Belakang Program Chromebook di Kemendikbud
Program pengadaan Chromebook Kemendikbud bermula dari kebijakan digitalisasi sekolah senilai total sekitar Rp9,3 triliun untuk sekitar 1,2 juta unit perangkat, yang berlangsung sepanjang 2019-2022.
Awalnya proyek ini disebut ditujukan untuk sekolah di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar), namun dalam pelaksanaannya justru dinilai kurang efektif untuk wilayah dengan akses internet terbatas, sebab Chrome OS sangat bergantung pada koneksi daring yang stabil.
Kejaksaan Agung kemudian membongkar dugaan penyimpangan dalam proses pengadaan tersebut, dan setelah proses hukum panjang, Nadiem Makarim resmi divonis bersalah bersama beberapa mantan pejabat dan konsultan Kemendikbudristek lainnya.
Terlepas dari kontroversi hukumnya, perangkat Chromebook itu sendiri tetap terpasang dan digunakan di ribuan sekolah di seluruh Indonesia hingga hari ini.
Spesifikasi Chromebook Program Digitalisasi Sekolah
Berdasarkan ketentuan teknis pengadaan yang diatur lewat regulasi Kemendikbudristek, seluruh Chromebook Kemendikbud yang dibeli dari enam vendor lokal (Zyrex, Axioo, Advan, Evercoss, SPC/Supertone, dan TSM) wajib memenuhi spesifikasi minimum yang seragam:
- Prosesor dual-core Intel Celeron N4020 (1,1 GHz, turbo hingga 2,8 GHz)
- RAM 4GB DDR4
- Penyimpanan 32GB eMMC
- Layar 11,6 inci LED
- Sistem operasi Chrome OS dengan Chrome Device Management (CDM)
- Konektivitas Wi-Fi dual band dan Bluetooth
- Garansi resmi 1-2 tahun
Dari sisi harga Chromebook, kisarannya cukup bervariasi antar vendor: Zyrex dibanderol Rp5,9 juta-Rp6,8 juta, Axioo Rp6,49 juta-Rp6,8 juta, SPC sekitar Rp6,4 juta, Evercoss Rp6,8 juta, dan Advan Rp6,49 juta per unit sesuai data e-Katalog LKPP saat pengadaan berlangsung.
Harga ini kerap disorot karena dianggap relatif tinggi untuk spesifikasi entry-level yang ditawarkan.
Sejarah Singkat Google Meluncurkan Laptop Chromebook
Untuk memahami mengapa Kemendikbud memilih perangkat ini, penting menengok sejarah Chrome OS itu sendiri. Google pertama kali mengumumkan pengembangan sistem operasi berbasis cloud ini pada 7 Juli 2009, dibangun di atas kernel Linux dengan filosofi sederhana: sebagian besar aktivitas komputasi sehari-hari sebenarnya sudah bisa dilakukan lewat browser saja, sehingga tidak perlu sistem operasi yang berat.
Setelah melalui program uji coba bernama CR-48 pada akhir 2010, Google resmi merilis laptop Chromebook komersial pertamanya pada 15 Juni 2011 lewat kerja sama dengan Samsung dan Acer, dengan harga jual awal antara 349 hingga 499 dolar AS.
Sejak itu, ekosistem Chromebook terus berkembang: dukungan aplikasi Android hadir sekitar 2016-2017, dukungan aplikasi Linux menyusul pada 2020-2021, dan yang paling anyar adalah integrasi kecerdasan buatan Google Gemini pada lini Chromebook Plus di pertengahan dekade ini.
Negara yang Sukses Mengadopsi Chromebook Secara Masif
Sektor pendidikan menjadi pasar paling sukses bagi Chromebook secara global, dan bukan tanpa alasan. Harganya yang terjangkau, sistem keamanannya yang minim risiko malware, serta kemudahan pengelolaan ribuan unit sekaligus lewat Chrome Device Management membuat perangkat ini digemari institusi pendidikan.
Amerika Serikat menjadi pionir sekaligus pasar terbesar; Chromebook bahkan sempat menguasai hampir 60 persen pasar komputer sekolah di negeri itu pada 2018.
India dan Inggris turut mendorong adopsi Chromebook skala besar di sekolah negeri mereka, sementara Australia, Jepang, dan Kanada juga menjadikannya perangkat utama kegiatan belajar mengajar sehari-hari. Total secara global, Chromebook diklaim telah menjangkau lebih dari 40 juta pengajar dan pelajar di seluruh dunia sejak pertama diluncurkan.
Kelebihan dan Kekurangan Chromebook
Sebelum menilai kelayakan program Kemendikbud, ada baiknya memahami dulu karakter Chromebook untuk pelajar secara objektif, karena perangkat ini memang punya profil yang sangat berbeda dari laptop Windows atau Mac konvensional.
Kelebihan
- Ringan dan cepat : proses booting hanya membutuhkan hitungan detik karena sistem operasinya minimalis
- Keamanan tinggi : arsitektur berbasis web dengan sandboxing membuatnya jauh lebih kebal malware dibanding sistem operasi tradisional
- Harga terjangkau : cocok untuk pengadaan massal seperti program pendidikan dengan anggaran terbatas
- Mudah dikelola : administrator sekolah bisa mengatur ribuan perangkat sekaligus lewat satu dasbor manajemen
- Update otomatis : setiap unit menerima pembaruan keamanan otomatis dari Google selama bertahun-tahun
Kekurangan
- Sangat bergantung pada internet : sebagian besar fungsinya optimal hanya saat terhubung jaringan, menjadi masalah serius di wilayah dengan akses internet terbatas seperti daerah 3T
- Tidak mendukung software berat : aplikasi profesional seperti AutoCAD atau Adobe Premiere versi penuh tidak bisa dijalankan
- Spesifikasi hardware rendah : pada varian entry-level, kapasitas RAM dan penyimpanan yang kecil bisa terasa terbatas untuk multitasking berat
- Kurang cocok untuk gaming berat : meski sudah ada dukungan Steam Beta, performanya masih jauh dari laptop gaming
Spesifikasi dan Harga Chromebook Terbaru 2026
Jika dibandingkan dengan unit yang dibeli Kemendikbud pada 2020-2022, Chromebook terbaru 2026 sudah jauh berkembang, terutama lewat standar baru bernama Chromebook Plus.
Standar ini mewajibkan spesifikasi minimum yang jauh lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya: prosesor minimal setara Intel Core i3/Ryzen 3 generasi terbaru atau chipset MediaTek Kompanio, RAM minimal 8GB, penyimpanan berbasis SSD NVMe (bukan lagi eMMC lambat), layar Full HD IPS, serta integrasi asisten AI Google Gemini langsung di sistem operasinya.
Berikut kisaran harga Chromebook terbaru di pasar Indonesia sepanjang 2026, dari kelas entry hingga premium:
- ASUS Chromebook C424MA (Intel N4020, RAM 4GB, storage 128GB) sekitar Rp2.799.000
- Lenovo Chromebook Duet (MediaTek, RAM 4GB, storage 128GB) sekitar Rp5.900.000
- Acer Chromebook Plus 516 GE (Intel Core i3, RAM 8GB, SSD 256GB) sekitar Rp6.200.000
- Lenovo Flex 5i Chromebook Plus (Intel Core i3-1315U, RAM 8GB) sekitar Rp7.700.000
- ASUS Chromebook Plus CX34 (Intel Core i5-1334U, RAM 8GB, SSD 256GB) sekitar Rp11.499.000
- Acer Chromebook Plus Spin 714 (Intel Core Ultra 5, RAM 8GB, SSD 256GB) sekitar Rp11.625.000
- HP Dragonfly Pro Chromebook (Intel Core i5-1235U, RAM 16GB, SSD 256GB) sekitar Rp15.480.000
- Samsung Galaxy Chromebook Plus 15.6 (Intel Core i5, RAM 8GB, SSD 256GB) sekitar Rp15.480.000
Rentang harga yang lebar ini menunjukkan bahwa ekosistem spesifikasi Chromebook Plus kini menyasar segmen yang jauh lebih luas dibanding hanya perangkat sekolah murah, mulai dari pelajar hingga profesional yang membutuhkan daya tahan baterai panjang dan performa AI on-device.
Pelajaran dari Kasus Korupsi Chromebook Kemendikbud
Terlepas dari kualitas teknis Chrome OS yang secara global memang terbukti efektif untuk sektor pendidikan, kasus korupsi Chromebook yang menjerat Nadiem Makarim menunjukkan bahwa persoalan sebenarnya bukan pada teknologinya, melainkan pada tata kelola pengadaannya.
Fakta bahwa spesifikasi teknis dalam petunjuk teknis sudah "dikunci" mengarah pada satu sistem operasi tertentu sejak awal, sementara hasil uji coba sebelumnya sudah menunjukkan ketidaksesuaian dengan kondisi daerah 3T, semestinya menjadi alarm dini yang tidak boleh diabaikan oleh pengambil kebijakan publik.
Vonis Nadiem Makarim selama 10 tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Tipikor menjadi pengingat keras bahwa program digitalisasi pendidikan, sebaik apa pun niatnya di atas kertas, harus tetap tunduk pada prinsip transparansi, kajian kebutuhan yang matang, serta proses pengadaan yang kompetitif dan bebas dari konflik kepentingan.
Ironisnya, di tengah kontroversi hukum ini, banyak Chromebook bantuan tersebut pada kenyataannya tetap dipakai dan dirasakan manfaatnya oleh siswa di berbagai sekolah hingga sekarang.
Ini menegaskan bahwa teknologi itu sendiri bukan akar masalah; akar masalahnya ada pada bagaimana keputusan pengadaan skala triliunan rupiah diambil tanpa pengawasan yang memadai.
Pelajaran ini semestinya mendorong perbaikan sistem pengadaan barang dan jasa pemerintah ke depan, khususnya untuk proyek-proyek teknologi pendidikan yang menyentuh hajat hidup jutaan siswa di seluruh Indonesia.
Apakah Chromebook Bantuan Kemendikbud Masih Layak Dipakai Sekarang?
Pertanyaan ini sering muncul di tengah ramainya pemberitaan kasus hukum tersebut. Jawabannya, secara teknis, "YA, Masih Layak" meski unit-unit tersebut sudah berusia empat hingga enam tahun. Chrome OS dirancang untuk tetap mendapatkan pembaruan keamanan otomatis dari Google selama bertahun-tahun sejak tanggal rilis.
Selama baterai dan komponen fisiknya masih berfungsi normal, perangkat tetap bisa dipakai untuk kebutuhan dasar seperti mengetik tugas, mengakses materi pembelajaran daring, dan video conference.
Di beberapa daerah, laporan dari pihak sekolah bahkan menyebut Chromebook bantuan ini masih dimanfaatkan secara rutin dalam kegiatan belajar mengajar hingga saat ini, membuktikan bahwa dari sisi fungsi dasar pendidikan, perangkat tersebut cukup tangguh.
Namun demikian, keterbatasan usia baterai dan kapasitas RAM 4GB yang pas-pasan membuat performanya mulai terasa berat ketika digunakan untuk multitasking atau aplikasi berbasis web yang semakin kompleks dari tahun ke tahun.
Ini menjadi pengingat bahwa pengadaan perangkat pendidikan idealnya juga mempertimbangkan siklus peremajaan (refresh cycle) sejak awal perencanaan anggaran, bukan sekadar pembelian satu kali tanpa rencana pemeliharaan jangka panjang.
Pertanyaan Tentang Chromebook Kemendikbud
Apakah semua Chromebook Kemendikbud memiliki spesifikasi yang sama?
Ya, secara garis besar seragam karena mengacu pada standar minimum yang ditetapkan lewat regulasi resmi Kemendikbudristek, meski enam vendor berbeda yang memproduksinya sehingga ada sedikit variasi pada desain bodi dan kualitas komponen pendukung seperti keyboard dan speaker.
Kenapa harga Chromebook program ini dianggap mahal dibanding e-commerce?
Karena harga di e-Katalog LKPP biasanya sudah termasuk komponen tambahan seperti biaya distribusi ke seluruh Indonesia (termasuk daerah terpencil), garansi resmi jangka panjang, lisensi Chrome Education Upgrade, dan syarat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) minimal yang membuat biaya produksi lebih tinggi dibanding unit ritel biasa.
Apa beda Chromebook biasa dengan Chromebook Plus?
Chromebook Plus adalah standar premium yang diperkenalkan Google dengan syarat spesifikasi jauh lebih tinggi: prosesor setara Intel Core i3 ke atas, RAM minimal 8GB, storage SSD, layar Full HD, serta fitur AI Gemini terintegrasi.
Berbeda dengan Chromebook entry-level seperti yang dulu dibagikan ke sekolah dengan RAM 4GB dan storage eMMC 32GB.
Kesimpulan dan Penutup
Program Chromebook Kemendikbud era Nadiem Makarim meninggalkan dua warisan yang kontras: di satu sisi perangkatnya sendiri terbukti bermanfaat secara teknis bagi banyak sekolah, mengikuti jejak sukses adopsi Chromebook di berbagai negara maju.
Di sisi lain, proses pengadaannya kini tercatat sebagai salah satu kasus korupsi pendidikan terbesar dalam sejarah Indonesia dengan vonis 10 tahun penjara bagi sang menteri yang merancangnya.
Bagi pembaca yang sekadar ingin memahami sisi teknis, memilih Chromebook di tahun 2026 kini jauh lebih leluasa berkat hadirnya standar Chromebook Plus dengan performa dan harga yang jauh lebih variatif dibanding unit-unit yang dulu dibagikan ke sekolah. #KhairPedia
