Table of Content

Superbank Asli Bandung Dicaplok Perusahaan Grab Singapura

Superbank asli Bandung, kini resmi dikuasai Grab lewat borongan saham 2026. Simak sejarah, program unggulan, dan cara instal aplikasinya.
grab akuisisi superbank

Salah satu bank digital paling ramai dibicarakan di Indonesia saat ini ternyata lahir dari sebuah bank kecil di Bandung yang berdiri 30 tahun yang lalu. Namanya kini akrab di telinga jutaan pengguna Grab dan OVO, yaitu Superbank

Namun perjalanan menuju status bank digital Indonesia yang besar ini tidak instan. Ada drama akuisisi, pergantian nama, hingga akhirnya raksasa teknologi asal Singapura yaitu Grab yang resmi mengambil alih mayoritas sahamnya pada pertengahan tahun 2026. Bagaimana Bank kecil di Bandung bisa menjadi bagian dari Perusahaan Decacorn Pertama di Asia Tenggara? 

Simak latar belakang, rekam jejak dan asal usul historis Superbank :

Awal Mula dari Bank Fama International, Bank Kecil Asli Bandung

Cerita ini dimulai pada tahun 1993, saat PT Bank Fama International resmi berdiri di Bandung dengan modal awal Rp10 miliar. Bank ini didirikan oleh pengusaha tekstil Junus Jen Suherman dan Edi Susanto, yang saat itu juga memiliki PT Bandung Sakura Textile Mills dan PT Famatex. 

Nama Fama sendiri diyakini terinspirasi dari nama perusahaan tekstil tersebut.

Selama hampir tiga dekade, Bank Fama beroperasi sebagai bank konvensional biasa dengan skala kecil. Kantor pusatnya berada di Jalan Cihampelas, lalu berpindah ke Jalan Asia Afrika, Bandung. 

Fokus utamanya adalah melayani segmen UMKM di wilayah Jabodetabek dan Bandung, jauh dari kesan sebagai cikal bakal aplikasi bank digital yang kelak dipakai jutaan orang.

Masalah muncul ketika pemerintah mewajibkan modal inti bank umum minimal Rp3 triliun. Bank Fama yang modal intinya baru sekitar Rp1,9 triliun pada 2022 pun mencari jalan keluar. 

Pemegang saham lama akhirnya memutuskan melepas kepemilikan mereka kepada investor baru, dan dari sinilah kisah transformasi besar dimulai.


Akuisisi Pertama, Emtek Group Masuk di Akhir 2021

Pihak pertama yang mengambil alih Bank Fama bukanlah Grab, melainkan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (Emtek), konglomerasi media dan teknologi Indonesia. Akuisisi ini terjadi pada akhir 2021 melalui PT Elang Media Visitama dan PT Nusantara Berkat Agung. 

Langkah ini menjadi pintu masuk bagi Bank Fama untuk mulai bertransformasi menjadi lembaga keuangan yang mengarah pada industri bank digital yang saat itu sedang tumbuh pesat di Indonesia.

Dukungan modal dari Emtek membuat Bank Fama mampu memenuhi kewajiban modal inti yang disyaratkan regulator, naik dari Rp1,4 triliun menjadi Rp5 triliun. 

Ini menjadi fondasi penting sebelum bank tersebut benar-benar melompat ke ranah digital sepenuhnya.

Grab dan Singtel Bergabung sebagai Investor Strategis di 2022

Tidak lama setelah Emtek masuk, giliran dua raksasa teknologi asal Singapura ikut ambil bagian. Pada awal 2022, Grab melalui A5-DB Holdings Pte Ltd dan Singtel melalui Singtel Alpha Investment Pte Ltd resmi menjadi pemegang saham Bank Fama.

Kehadiran keduanya membawa keahlian teknologi dan jaringan digital yang matang, sesuatu yang sangat dibutuhkan untuk mempercepat transformasi bank digital di institusi yang sebelumnya masih konvensional ini.

Grab sendiri bukan pemain baru di dunia teknologi finansial Indonesia. Sebelumnya, Grab sudah mengakuisisi PT Kudo Teknologi Indonesia pada 2017 yang kemudian berganti nama menjadi GrabKios. Pengalaman ini menjadi modal berharga saat Grab mulai merambah bisnis perbankan digital lewat kepemilikan sahamnya di Bank Fama.


Rebranding Menjadi Superbank dan Masuknya KakaoBank di 2023

Momen paling menentukan terjadi pada 20 Februari 2023. Nama Bank Fama resmi berganti menjadi PT Super Bank Indonesia, dengan nama dagang Superbank. Bersamaan dengan itu, kantor pusat yang selama puluhan tahun berada di Bandung dipindahkan ke Revenue Tower, kawasan SCBD, Jakarta. 

Bandung tetap dipertahankan sebagai lokasi kantor cabang, sebagai jejak historis dari mana bank ini berasal.

Pada Oktober 2023, konsorsium pemilik semakin lengkap dengan masuknya KakaoBank, bank digital asal Korea Selatan, yang mengakuisisi sekitar 10 persen saham. 

Masuknya KakaoBank memperkuat posisi Superbank sebagai representasi kolaborasi lintas negara dalam ekosistem bank digital di Asia. Susunan pemegang saham pun menjadi lebih beragam, dengan Emtek, Grab, Singtel, dan KakaoBank sebagai pemain utama.


Ekspansi Aplikasi dan Lonjakan Nasabah

Superbank resmi meluncurkan aplikasi kepada publik pada Juni 2024, lengkap dengan integrasi langsung ke aplikasi Grab dan OVO. Hasilnya luar biasa. Dari kurang dari 20 ribu pengguna aktif pada April 2024, jumlah nasabah melonjak menjadi sekitar 4 juta pengguna aktif pada pertengahan 2025, dan terus bertambah hingga menembus 5 juta nasabah pada akhir tahun yang sama. 

Pencapaian ini menjadi bukti bagaimana kombinasi antara layanan perbankan dan ekosistem ride-hailing serta dompet digital mampu mempercepat adopsi layanan bank digital di kalangan masyarakat, termasuk kelompok unbanked dan underbanked yang sebelumnya sulit menjangkau perbankan formal.

IPO Superbank pada Desember 2025

Perjalanan Superbank tidak berhenti di ekspansi aplikasi saja. Pada 17 Desember 2025, Superbank resmi menjadi perusahaan publik dengan kode saham SUPA setelah menuntaskan penawaran umum perdana atau IPO senilai Rp3,06 triliun. 

Dalam proses ini, perusahaan melepas sekitar 13 persen sahamnya ke publik dengan respons yang sangat positif dari investor ritel.

Setelah IPO, status Superbank naik menjadi KBMI II dengan modal inti mencapai Rp8 triliun, sementara total asetnya tercatat Rp17,6 triliun. 

Momentum ini juga sekaligus membuka jalan bagi para pemegang saham lama, terutama Grab, untuk mulai memperbesar porsi kepemilikannya secara agresif di bursa saham.


Grab Borong Saham, Pemegang Saham Mayoritas 2026

Inilah bagian paling menarik dari kisah ini. Sepanjang 2026, Grab melakukan serangkaian aksi borong saham SUPA yang konsisten dan masif melalui dua kendaraan investasinya, yaitu A5-DB Holdings Pte Ltd dan GXS Bank Pte Ltd.

Semua dimulai pada pertengahan Januari 2026, ketika A5-DB Holdings membeli 362,7 juta lembar saham SUPA. Aksi ini berlanjut pada akhir Januari hingga awal Februari 2026, dengan tujuh kali transaksi yang menghabiskan dana sekitar Rp667 miliar, membuat porsi kepemilikan Grab naik menjadi 13,23 persen dari sebelumnya 11,10 persen. 

Tidak berhenti di situ, pada akhir Februari 2026, Grab kembali menambah kepemilikannya menjadi 15,04 persen melalui pembelian ratusan juta lembar saham lagi.

Memasuki akhir Mei 2026, aksi borong saham semakin intensif. GXS Bank menyerap 2,44 miliar lembar saham hingga porsinya mencapai 7,22 persen, ditambah pembelian tambahan oleh A5-DB Holdings. 

Total kepemilikan seluruh entitas yang berafiliasi dengan Grab Holdings pun melonjak menjadi sekitar 23,5 persen pada akhir Mei.

Puncaknya terjadi pada awal Juni 2026. Melalui rangkaian transaksi lanjutan oleh A5-DB Holdings dan GXS Bank, total kepemilikan entitas terafiliasi Grab menembus angka 50,28 persen. Artinya, Grab resmi menjadi pemegang saham pengendali alias mayoritas di Superbank, bank yang dulunya bernama Bank Fama dan lahir dari kota Bandung. 

Perubahan status ini menandai babak baru dalam persaingan bank digital di Indonesia, sekaligus menegaskan strategi jangka panjang Grab untuk mengonsolidasikan kendali penuh atas layanan keuangan digitalnya di kawasan Asia Tenggara.

Manajemen Superbank menyambut baik langkah ini sebagai bentuk kepercayaan pemegang saham terhadap arah bisnis perusahaan.

Pihak Grab Indonesia menegaskan bahwa penambahan kepemilikan ini mencerminkan keyakinan mereka terhadap potensi jangka panjang pasar Indonesia dalam mendorong inklusi keuangan melalui inovasi bank digital.


Program Unggulan Superbank

Di balik drama kepemilikan saham, Superbank sejatinya dikenal luas karena produk-produknya yang kompetitif. Berikut rangkuman program unggulan yang membuat Superbank digemari sebagai salah satu aplikasi bank digital favorit di Indonesia.

Tabungan Utama

Ini adalah rekening inti yang otomatis terbuka saat seseorang mendaftar menjadi nasabah Superbank. Tabungan Utama menawarkan tanpa biaya administrasi bulanan dan tanpa syarat saldo minimum, menjadikannya pintu masuk utama untuk menikmati berbagai fitur bank digital lainnya.

Saku by Superbank

Fitur ini memungkinkan nasabah membuat hingga 30 rekening tambahan bernama Saku, yang terhubung langsung dengan Tabungan Utama. Setiap Saku bisa diberi nama sesuai tujuan, misalnya dana darurat, liburan, atau cicilan bulanan. 

Ada juga fitur Target Nabung dan Auto Isi yang membantu nasabah mencapai target tabungan secara otomatis, mencerminkan bagaimana inovasi bank digital mempermudah pengelolaan keuangan personal.

Celengan by Superbank

Fitur menabung otomatis ini cocok untuk nasabah yang ingin menyisihkan uang recehan tanpa terasa. Ada dua skema, yaitu Auto Isi yang mendebit nominal tetap setiap hari, dan Tanpa Auto Isi yang membulatkan saldo transaksi harian ke celengan. Menjadi salah satu daya tarik utama tren bank digital berbasis micro-saving di Indonesia.

OVO Nabung by Superbank

Kolaborasi dengan dompet digital OVO melahirkan fitur OVO Nabung, yang memungkinkan saldo OVO milik pengguna diubah menjadi rekening tabungan tanpa kehilangan fungsi utama OVO seperti top up, pembayaran, dan tarik tunai. 

Fitur ini menjadi contoh nyata bagaimana perkembangan bank digital tidak lagi berdiri sendiri, melainkan menyatu dengan aplikasi lain yang sudah lebih dulu akrab di kehidupan sehari-hari masyarakat.

Integrasi dengan Aplikasi Grab

Nasabah tidak wajib mengunduh aplikasi Superbank secara terpisah, karena semua layanan utama juga bisa diakses lewat menu Payment di aplikasi Grab. Integrasi ini memberi kemudahan luar biasa bagi jutaan pengguna aktif Grab yang ingin membuka rekening, menabung, atau mengajukan pinjaman tanpa harus berpindah aplikasi, sekaligus mempercepat akuisisi nasabah bank digital baru bagi Superbank.


Posisi Superbank di Tengah Persaingan Bank Digital Tanah Air

Perjalanan panjang dari Bandung hingga menjadi milik mayoritas Grab tidak lepas dari ketatnya persaingan di industri perbankan digital Indonesia. Superbank harus bersaing dengan pemain lain seperti Bank Jago, SeaBank, dan Krom Bank, yang sama-sama menawarkan fasilitas dan fitur bank digital super lengkap serta kemudahan pembukaan rekening tanpa harus datang ke kantor cabang. 

Di tengah persaingan ini, keunggulan utama Superbank justru datang dari integrasi ekosistemnya dengan Grab dan OVO, dua aplikasi yang sudah lebih dulu dipakai jutaan masyarakat Indonesia untuk transportasi, pesan antar makanan, hingga pembayaran digital sehari hari.

Strategi ini terbukti efektif. Alih alih membangun basis nasabah dari nol seperti kebanyakan bank digital baru, Superbank memanfaatkan jaringan pengguna Grab yang sudah terbentuk selama lebih dari satu dekade di Indonesia. 

Hasilnya, akuisisi nasabah berlangsung jauh lebih cepat dibanding jika Superbank harus beriklan dan membangun kepercayaan dari titik nol. 

Pendekatan berbasis ekosistem semacam ini kini menjadi salah satu formula yang banyak ditiru pemain lain, karena terbukti mampu mempercepat pertumbuhan tanpa mengorbankan biaya akuisisi yang terlalu besar.

Kombinasi antara warisan sejarah sebagai bank asli Bandung, dukungan modal dari konsorsium internasional, serta integrasi ekosistem digital yang matang, membuat Superbank layak diperhitungkan sebagai salah satu contoh sukses transformasi bank tradisional menuju era digital penuh di Indonesia.


Cara Instal Aplikasi Superbank di Android

Bagi pengguna Android, proses instalasi aplikasi Superbank cukup sederhana. Berikut langkah-langkahnya:

1. Buka Google Play Store di ponsel Android kamu.
2. Ketik kata kunci "Superbank" pada kolom pencarian.
3. Pilih aplikasi resmi Superbank dengan logo huruf S berwarna ungu.
4. Tekan tombol "Instal" dan tunggu proses unduhan selesai.
5. Setelah terpasang, buka aplikasi dan pilih menu daftar akun baru.
6. Masukkan nomor HP aktif, lalu masukkan kode OTP yang dikirim lewat SMS.
7. Lengkapi data diri dengan memindai e-KTP dan melakukan verifikasi wajah.
8. Buat PIN transaksi sebanyak 6 digit untuk mengamankan akun.

Jika mengalami kendala saat menerima OTP, pastikan mode pesawat dalam keadaan mati dan nomor HP masih aktif. Beberapa pengguna juga perlu menonaktifkan fitur Developer Options atau USB Debugging di ponsel, karena Superbank menerapkan standar keamanan bank digital yang ketat untuk melindungi data dan saldo nasabah.

Cara Instal Aplikasi Superbank di iPhone

Untuk pengguna iPhone, aplikasi Superbank juga tersedia dan sudah dioptimalkan untuk perangkat dengan sistem iOS 15 ke atas. Berikut cara instalasinya:

1. Buka App Store di iPhone kamu.
2. Ketik "Superbank" pada kolom pencarian di bagian atas layar.
3. Pilih aplikasi resmi Superbank yang muncul di hasil pencarian.
4. Tekan ikon awan atau tombol "Dapatkan" untuk mulai mengunduh.
5. Masukkan Face ID, Touch ID, atau kata sandi Apple ID jika diminta.
6. Setelah instalasi selesai, buka aplikasi dan pilih "Buka Rekening Baru".
7. Isi nomor HP, verifikasi lewat kode OTP, lalu unggah foto e-KTP.
8. Selesaikan proses dengan membuat PIN transaksi 6 digit.

Pastikan sistem operasi iPhone sudah diperbarui ke versi terbaru agar seluruh fitur aplikasi berjalan lancar tanpa gangguan, mengingat pembaruan rutin menjadi bagian penting dari masa depan bank digital yang terus beradaptasi dengan kebutuhan keamanan siber.


Keamanan dan Pengawasan Superbank Izin Resmi BI OJK

Wajar jika banyak calon nasabah bertanya-tanya soal keamanan dana mereka, mengingat Superbank beroperasi penuh secara digital. Kabar baiknya, Superbank bukan aplikasi abal-abal. Bank ini berizin resmi dan diawasi langsung oleh Bank Indonesia (BI) serta Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sama seperti bank konvensional pada umumnya. 

Status ini penting karena menjadi pembeda utama antara bank digital yang resmi dengan aplikasi pinjaman ilegal yang marak beredar di masyarakat.

Selain itu, seluruh simpanan nasabah Superbank juga dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Dari sisi teknologi, aplikasi Superbank telah mengantongi sertifikasi keamanan manajemen informasi berstandar internasional ISO 27001. 

Dilengkapi verifikasi biometrik seperti sidik jari dan Face ID untuk login maupun transaksi. Kombinasi pengawasan regulator dan standar teknis ini membuat keamanan bank digital Superbank tidak kalah dengan bank umum yang sudah beroperasi puluhan tahun.

Setelah resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada Desember 2025, transparansi Superbank juga meningkat karena wajib melaporkan kinerja keuangan secara berkala kepada publik dan regulator pasar modal. 

Laporan keuangan hingga April 2026 misalnya mencatat lonjakan laba sebelum pajak sebesar 1.529 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, didorong oleh pertumbuhan penyaluran kredit sebesar 55 persen secara tahunan. Angka-angka ini menunjukkan bahwa perubahan kepemilikan saham ke tangan Grab tidak menghambat kinerja bisnis, justru berjalan beriringan dengan penguatan fundamental perusahaan.


Kesimpulan dan Penutup

Kisah Superbank adalah potret nyata bagaimana sebuah bank kecil asal Bandung bisa bertransformasi menjadi salah satu pemain penting dalam bank digital dan layanan keuangan modern di Indonesia. 

Dari Bank Fama yang sederhana, melalui akuisisi Emtek, investasi Grab dan Singtel, hingga bergabungnya KakaoBank, semua babak ini akhirnya bermuara pada satu titik penting di tahun 2026, yaitu ketika Grab resmi menjadi pemegang saham mayoritas.

Perjalanan ini menunjukkan bahwa dunia perbankan tidak lagi statis. Konsolidasi kepemilikan, kolaborasi lintas negara, dan integrasi ekosistem digital menjadi kunci bagi siapa pun yang ingin bertahan dan berkembang di tengah ketatnya persaingan. 

Bagi nasabah, yang terpenting tentu saja kualitas layanan, keamanan dana, dan kemudahan akses yang terus ditingkatkan oleh Superbank, apa pun perubahan di balik layar kepemilikan sahamnya. #KhairPedia

Posting Komentar