Ketika orang membicarakan bursa saham tertua di dunia, nama Wall Street hampir selalu muncul lebih dulu di kepala. Wajar saja, sebab New York Stock Exchange (NYSE) hari ini identik dengan pusat gravitasi keuangan global.
Padahal, jauh sebelum Wall Street berdiri, dunia sudah mengenal pasar saham modern di sebuah kota pelabuhan kecil di Eropa bernama Amsterdam. Pada tahun 1602, perusahaan dagang raksasa Belanda, Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC, menggelar penawaran saham perdana yang kelak dikenang sebagai IPO pertama dalam sejarah manusia.
Dari peristiwa itulah lahir bursa saham pertama di dunia, hampir dua abad sebelum Wall Street bahkan punya nama.#KhairPedia
VOC, Perusahaan yang Mengubah Sejarah Keuangan Dunia
VOC bukan sekadar perusahaan dagang biasa. Ia lahir dari kebutuhan mendesak Republik Belanda untuk bertahan dalam perebutan jalur rempah-rempah Asia yang saat itu didominasi Portugis dan Spanyol.
Sebelum VOC terbentuk, sejumlah perusahaan dagang kecil Belanda, yang dikenal sebagai voorcompagnieën atau precompanies, sudah lebih dulu mengirim kapal ke Hindia Timur sejak ekspedisi pertama Compagnie van Verre pada 1595.
Latar Belakang Pendirian VOC pada 1602
Masalahnya, para precompanies ini saling bersaing satu sama lain di pasar Eropa, sehingga harga rempah anjlok dan biaya ekspedisi membengkak. Pemerintah Belanda, lewat tokoh negarawan Johan van Oldenbarnevelt, mendorong penggabungan seluruh precompanies menjadi satu entitas besar.
Hasilnya adalah VOC, yang berdiri pada 1602 dengan hak monopoli dagang selama 21 tahun di kawasan Asia. Menariknya, VOC lahir bukan dari inisiatif swasta murni, melainkan dari campur tangan negara, menjadikannya salah satu perusahaan publik pertama yang eksistensinya ditopang langsung oleh otoritas pemerintah.
Piagam VOC dan Konsep Kepemilikan Publik
Yang membuat VOC benar-benar revolusioner bukan hanya skala dagangnya, melainkan cara ia mengumpulkan modal. Piagam pendirian VOC yang ditandatangani pada 20 Maret 1602 menyatakan bahwa perusahaan akan menerbitkan saham atas nama, dan setiap penduduk negeri diperbolehkan membelinya. Konsep ini benar benar baru pada masanya.
Sebelum VOC, pendanaan ekspedisi dagang biasanya bergantung pada satu atau segelintir pemodal kaya yang menanggung seluruh risiko kerugian akibat badai atau perompak. VOC membalik logika itu dengan membuka pintu bagi siapa saja, dari pedagang besar hingga tukang kayu kapal, untuk ikut memiliki sebagian perusahaan.
IPO VOC: Penawaran Saham Publik Pertama di Dunia
Penawaran saham VOC pada 1602 sering disebut sebagai IPO pertama dalam sejarah. Dalam waktu singkat, VOC berhasil mengumpulkan sekitar 6,5 juta gulden dari 1.143 investor, jumlah yang luar biasa besar untuk ukuran abad ke-17. Yang lebih menarik, partisipasi ini tidak terbatas pada kalangan elite.
Buku catatan langganan modal VOC bahkan mencatat seorang pembantu rumah tangga bernama Neeltgen Cornelis yang menanamkan 100 gulden, tabungan hasil kerja kerasnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa investasi publik, sesuatu yang hari ini kita anggap lumrah lewat aplikasi saham di ponsel, sebenarnya sudah dipraktikkan empat abad lalu di jalanan Amsterdam.
Setiap transaksi jual beli saham VOC harus dicatat secara resmi. Pembukuan chamber VOC di Amsterdam, yang dipegang oleh seorang bookkeeper bernama Barent Lampe, bertugas mencatat setiap perpindahan kepemilikan saham.
Artinya, mekanisme dasar yang kita kenal sekarang sebagai pencatatan kepemilikan saham di bursa modern, sudah ada cikal bakalnya sejak IPO VOC digelar.
Bagaimana Bursa Saham Amsterdam Sebenarnya Terbentuk
Ada satu kesalahpahaman yang perlu diluruskan. VOC sendiri sebenarnya tidak secara resmi mendirikan bursa saham sebagai lembaga. Yang dilakukan VOC hanyalah menggelar IPO karena butuh modal besar, lalu menetapkan prosedur pemindahan kepemilikan saham lewat pembukuan resmi.
Fondasi pasar modal itu diletakkan oleh VOC, tetapi pasar itu sendiri justru dikembangkan secara organik oleh para pemegang saham yang ingin memperjualbelikan sahamnya.
Pada awalnya, transaksi jual beli saham VOC terjadi di ruang terbuka kota Amsterdam, terutama di sekitar jembatan New Bridge. Ketika cuaca buruk, sejak 1586 pedagang diizinkan berpindah ke Kapel St. Olaf yang letaknya tidak jauh dari jembatan itu.
Kondisi ini bertahan cukup lama, sampai akhirnya Dewan Kota Amsterdam menugaskan arsitek Hendrick de Keyser pada 1611 untuk merancang gedung bursa resmi. Di gedung inilah saham VOC, dan belakangan saham West India Company (WIC) sejak 1623, diperdagangkan secara lebih terstruktur.
Penelitian sejarawan ekonomi Lodewijk Petram menunjukkan bahwa pasar saham Amsterdam baru benar benar matang menjadi pasar modal modern pada periode 1630 sampai 1650.
Pada masa itu, likuiditas pasar sudah sangat tinggi, proses price discovery berjalan konstan, dan pedagang bisa membeli atau menjual saham mendekati harga pasar tanpa kesulitan berarti.
Bahkan pada 1680, teknik yang dipakai pedagang Amsterdam sudah mencakup kontrak forward, futures, opsi, hingga short selling yang dulu disebut bear raids, sesuatu yang tingkat kecanggihannya setara dengan instrumen keuangan yang kita pakai hari ini.
Kenapa Wall Street Sering Dikaitkan dengan Bursa Amsterdam?
Menariknya, hubungan antara Amsterdam dan Wall Street ternyata tidak berhenti pada kemiripan konsep saja. Ada tiga alasan konkret kenapa keduanya terus disandingkan dalam sejarah keuangan dunia.
Pertama, asal usul nama Wall Street sendiri berakar dari sejarah kolonial Belanda. Sebelum menjadi New York, kawasan Manhattan dulunya bernama New Amsterdam dan dikuasai oleh Belanda. Pada 1653, para pemukim Belanda membangun tembok pertahanan sepanjang sekitar 700 meter untuk melindungi koloni dari kemungkinan serangan Inggris.
Jalan yang membentang di sepanjang tembok itulah yang kemudian dikenal sebagai Wall Street. Jadi secara harfiah, nama pusat keuangan Amerika yang paling terkenal di dunia justru punya akar Belanda, negara yang sama dengan tempat lahirnya bursa saham pertama.
Kedua, dari sisi usia, jarak antara keduanya sangat jauh. Bursa saham Amsterdam mulai beroperasi sejak IPO VOC pada 1602, sementara cikal bakal NYSE baru muncul pada 1792 lewat Buttonwood Agreement, kesepakatan yang ditandatangani 24 broker di bawah pohon buttonwood di Manhattan untuk mengatur perdagangan efek.
Artinya, ada rentang hampir 190 tahun antara berdirinya bursa saham Amsterdam dan lahirnya cikal bakal bursa saham New York. Fakta inilah yang membuat klaim Amsterdam sebagai bursa saham pertama di dunia sulit dibantah secara historis.
Ketiga, dan ini yang paling penting, seluruh instrumen keuangan yang dianggap modern hari ini sebenarnya sudah lebih dulu dirintis di Amsterdam. Kepemilikan saham yang bisa dipindahtangankan, konsep perseroan terbatas, kontrak forward, opsi, hingga praktik short selling, semuanya sudah dipraktikkan pedagang Amsterdam berabad-abad sebelum Wall Street mengadopsinya.
Sejarawan Lodewijk Petram bahkan menyebut bahwa meski Wall Street modern akhirnya menggantikan posisi Amsterdam sebagai pasar keuangan terdepan dunia, apa yang terjadi di sana sebenarnya bukan hal baru. Praktik penipuan, kebangkrutan, krisis keuangan, hingga masalah tata kelola perusahaan, semuanya sudah lebih dulu dialami pedagang saham Amsterdam empat abad lalu.
Pola migrasi pusat keuangan dunia ini sebenarnya cukup umum terjadi sepanjang sejarah. Setelah era keemasan Amsterdam meredup pada akhir abad ke-18, London sempat menjadi episentrum keuangan global berkat kekuatan kolonial dan perbankan Inggris, sebelum akhirnya kekuatan ekonomi Amerika Serikat yang tumbuh pesat memindahkan pusat gravitasi itu ke Wall Street sepanjang abad ke-19 dan ke-20.
Dengan kata lain, Wall Street bukan pencipta konsep bursa saham, melainkan penerus yang menyempurnakan dan membesarkan sistem yang sudah dirintis Amsterdam tiga abad sebelumnya.
Jejak VOC di Nusantara, Dari Rempah ke Modal Global
Bagi pembaca di Indonesia, kisah VOC tentu tidak asing. Perusahaan inilah yang selama hampir dua abad menancapkan kekuasaan dagangnya di Nusantara, mulai dari Batavia sebagai pusat administrasi hingga Kepulauan Maluku sebagai sumber rempah utama yang menjadi alasan VOC didirikan sejak awal.
Modal raksasa yang berhasil dihimpun lewat IPO 1602 itulah yang kemudian dipakai VOC untuk membiayai armada, benteng, dan ekspansi dagangnya di wilayah yang kini menjadi Indonesia.
Ironisnya, perusahaan yang melahirkan konsep bursa saham modern ini justru berakhir dengan kebangkrutan.
Setelah mengalami korupsi internal, utang menumpuk, dan persaingan dagang yang semakin ketat, VOC resmi dibubarkan pada 1799, dua abad setelah IPO bersejarahnya digelar. Aset dan wilayah kekuasaannya kemudian diambil alih langsung oleh pemerintah Kerajaan Belanda, yang menandai babak baru kolonialisme di Nusantara.
Fakta ini menjadi pengingat menarik, bahwa perusahaan yang menciptakan instrumen keuangan tercanggih pada masanya pun tetap tidak kebal dari kesalahan tata kelola dan keruntuhan finansial.
Warisan Amsterdam dalam Sistem Keuangan Modern
Kontribusi VOC terhadap sistem keuangan dunia tidak berhenti pada IPO semata. Model perseroan terbatas dengan kepemilikan saham publik yang lahir dari VOC menjadi cetak biru bagi hampir seluruh perusahaan besar dunia hari ini, termasuk perusahaan-perusahaan yang tercatat di Wall Street maupun di Bursa Efek Indonesia.
Tujuh tahun setelah IPO VOC, Bank of Amsterdam berdiri pada 1609 untuk menyediakan layanan penukaran mata uang dan kredit yang lebih terstandardisasi, memperkuat stabilitas keuangan kota sekaligus menjadi cikal bakal fungsi yang kini dijalankan bank sentral.
Yang tidak kalah penting, IPO VOC membuka jalan bagi demokratisasi investasi. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, masyarakat luas, bukan hanya pedagang kaya, punya kesempatan menanamkan uang mereka dan ikut menikmati keuntungan dari perdagangan global.
Semangat inilah yang menjadi fondasi budaya investasi ritel yang kita kenal sekarang, mulai dari perdagangan saham di NYSE dan Nasdaq, hingga aktivitas jutaan investor ritel di Bursa Efek Indonesia yang membeli saham lewat aplikasi sekuritas dari ponsel masing-masing.
FAQ Seputar Bursa Saham Pertama di Dunia
Apa bursa saham pertama di dunia?
Bursa saham pertama di dunia adalah Amsterdam Stock Exchange, yang lahir dari IPO Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) pada 1602, jauh sebelum Wall Street atau NYSE terbentuk.
Kapan VOC melakukan IPO pertamanya?
IPO VOC digelar berdasarkan piagam yang ditandatangani pada 20 Maret 1602, dengan total dana yang berhasil dihimpun mencapai 6,5 juta gulden dari 1.143 investor.
Apakah VOC secara resmi mendirikan bursa saham Amsterdam?
Tidak sepenuhnya. VOC hanya menggelar IPO dan menetapkan prosedur pemindahan kepemilikan saham. Pasar jual beli sahamnya sendiri berkembang secara organik lewat aktivitas para pedagang saham, sebelum akhirnya mendapat gedung bursa resmi pada 1611.
Kenapa Wall Street dianggap bursa saham tertua padahal usianya lebih muda?
Karena dominasi Wall Street sebagai pusat keuangan global saat ini membuat banyak orang mengasumsikan ia yang tertua. Padahal secara historis, cikal bakal NYSE baru muncul pada 1792 lewat Buttonwood Agreement, hampir 190 tahun setelah IPO VOC di Amsterdam.
Kisah IPO VOC dan lahirnya bursa saham Amsterdam menunjukkan bahwa banyak fondasi sistem keuangan modern, dari kepemilikan saham publik hingga instrumen derivatif, sebenarnya sudah dirintis jauh sebelum Wall Street dikenal dunia.
Amsterdam bukan hanya kota tempat lahirnya bursa saham pertama, tetapi juga laboratorium tempat konsep investasi modern pertama kali diuji, empat abad sebelum kita mengenalnya lewat layar ponsel. #KhairPedia
