Perusahaan robot yang baru delapan tahun berdiri, ketika melantai di bursa valuasinya langsung menembus Rp143 triliun dalam hitungan hari.
Itulah yang terjadi pada Unitree Robotics, produsen robot humanoid asal China yang kini resmi mencatatkan diri di Shanghai Stock Exchange. Bukan sekadar pencapaian finansial biasa, langkah ini menandai babak baru perang teknologi robotika antara China dan Amerika Serikat.
Kompetisi sektor teknologi sekaligus membuktikan bahwa industri robot humanoid bukan lagi sekadar mimpi masa depan, melainkan bisnis nyata yang sudah menghasilkan uang.
Dari Hangzhou ke Papan Bursa Terbesar China
Unitree Robotics, yang juga dikenal dengan nama Yushu Technology, berbasis di Hangzhou dan didirikan oleh Wang Xingxing pada 2016. Selama ini nama Unitree lekat dengan video viral robot anjing dan robot humanoid yang bisa berlari, menari, bahkan melakukan gerakan akrobatik yang membuat banyak orang terkejut sekaligus takjub.
Namun di balik konten yang sering wara wiri di media sosial itu, perusahaan ini ternyata membangun fondasi bisnis yang jauh lebih serius.
Pada Agustus 2026, Unitree resmi mematok harga penawaran umum perdana atau IPO di papan STAR Market milik Shanghai Stock Exchange. Harga sahamnya ditetapkan di angka 150,8 yuan atau setara sekitar 22,3 dolar AS per lembar.
Dengan harga tersebut, valuasi total perusahaan mencapai sekitar 61 miliar yuan, atau kurang lebih 9,04 miliar dolar AS. Jika dikonversi ke rupiah, angka ini menyentuh kisaran Rp143 triliun, sebuah nilai yang menempatkan Unitree sejajar dengan perusahaan teknologi kelas berat lainnya di bursa Tiongkok.
Yang membuat momen ini istimewa, Unitree menjadi perusahaan pembuat robot humanoid pertama yang berhasil melantai di bursa saham daratan China.
Selama ini banyak perusahaan robotika China memilih listing di luar negeri atau masih berstatus swasta murni. Unitree memutus tradisi itu dan langsung menembus pasar modal domestik yang selama ini dikenal sangat ketat dalam proses seleksi calon emiten.
Dana Segar Ratusan Juta Dolar
Dalam aksi korporasi ini, Unitree melepas sekitar 40,45 juta lembar saham baru, yang mewakili sekitar 10 persen dari total modal saham perusahaan setelah penawaran. Dari penjualan saham tersebut, perusahaan menargetkan perolehan dana segar sekitar 6,1 miliar yuan atau setara 904 juta dolar AS.
Dana hasil IPO ini tidak akan dibiarkan mengendap di rekening perusahaan. Manajemen Unitree sudah menyiapkan rencana penggunaan yang cukup spesifik, mulai dari pengembangan model kecerdasan buatan atau AI untuk menggerakkan robot mereka, riset dan pengembangan produk baru, hingga perluasan kapasitas pabrik untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat.
Ini menjadi sinyal bahwa Unitree tidak sekadar mengejar status perusahaan publik, tapi benar benar menyiapkan amunisi untuk bersaing di panggung global robotika humanoid yang persaingannya semakin sengit.
Proses IPO Tercepat dalam Sejarah Bursa China
Salah satu hal yang paling mencuri perhatian dari kisah IPO Unitree adalah kecepatan prosesnya. Pengajuan IPO perusahaan ini diterima oleh Shanghai Stock Exchange pada 20 Maret 2026. Hanya dalam hitungan bulan, tepatnya sekitar 73 hari kemudian, komite listing bursa sudah memberikan persetujuan pada awal Juni.
Jika dihitung dari awal pengajuan hingga proses review rampung sepenuhnya, keseluruhan prosesnya hanya memakan waktu sekitar 104 hari, sebuah rekor kecepatan yang jarang terjadi di pasar modal Tiongkok yang dikenal punya birokrasi cukup panjang.
Kecepatan ini bukan kebetulan. Pemerintah China memang secara aktif mendorong sektor robotika dan kecerdasan buatan sebagai industri strategis nasional. Berbagai insentif, subsidi, kemudahan regulasi, hingga jalur pengadaan pemerintah digelontorkan untuk mempercepat pertumbuhan perusahaan perusahaan di sektor ini.
Proses review super cepat yang dialami Unitree bisa dibaca sebagai bukti nyata dari dukungan institusional tersebut.
Bukan Cuma Hype, Unitree Sudah Untung
Berbeda dengan banyak startup teknologi yang melantai di bursa dengan bekal kerugian besar dan janji manis soal masa depan, Unitree justru masuk pasar modal dengan bekal yang jauh lebih meyakinkan yaitu profitabilitas nyata.
Sepanjang 2025, pendapatan Unitree tercatat sekitar 1,7 miliar yuan, atau setara sekitar 247 juta dolar AS. Angka ini melonjak empat kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Lebih mengesankan lagi, perusahaan ini berhasil mencetak laba bersih sekitar 591 juta yuan pada periode yang sama, dengan margin kotor yang bertengger di atas 60 persen, sebuah rasio yang tergolong sangat sehat untuk perusahaan manufaktur teknologi tinggi.
Dari sisi produksi, Unitree mengirimkan sekitar 5.500 unit robot humanoid sepanjang 2025. Angka ini menjadi bukti bahwa robot humanoid buatan mereka bukan sekadar purwarupa yang dipamerkan di panggung demo, melainkan produk yang sudah benar benar dibeli dan digunakan oleh pelanggan nyata, baik di sektor industri, riset, maupun komersial lainnya.
DeepSeek Ikut Nimbrung Sebagai Investor Strategis
Kabar menarik lain dari IPO ini adalah masuknya DeepSeek sebagai salah satu investor strategis. Perusahaan kecerdasan buatan yang didirikan oleh Liang Wenfeng ini, melalui entitas Hangzhou DeepSeek Artificial Intelligence Basic Technology, ikut menanamkan modal dalam penawaran saham Unitree.
Kombinasi antara Unitree sebagai pembuat perangkat keras robot dan DeepSeek sebagai raksasa kecerdasan buatan bisa membuka jalan kolaborasi yang saling menguntungkan.
Robot humanoid membutuhkan otak digital yang mumpuni untuk bisa bergerak, mengambil keputusan, dan beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya.
Di sisi lain, DeepSeek mendapat akses langsung ke platform fisik nyata untuk menguji dan mengimplementasikan model AI mereka di dunia nyata, bukan hanya di layar komputer.
Investor Ritel Berebut Jatah Saham
Antusiasme pasar terhadap IPO Unitree bisa dibilang luar biasa. Saat masa penawaran saham dibuka pada 10 Agustus 2026, permintaan dari investor ritel membanjir jauh melampaui jumlah saham yang tersedia.
Berdasarkan perhitungan yang dirilis lewat pengajuan bursa, porsi ritel dalam IPO ini kelebihan permintaan hingga ribuan kali lipat, dengan jutaan order masuk senilai triliunan yuan.
Saking tingginya minat investor, peluang investor ritel perorangan untuk benar benar mendapatkan alokasi saham hanya berkisar 0,018 persen. Bandingkan dengan porsi institusi atau offline yang juga mengalami kelebihan permintaan hingga ribuan kali lipat dari alokasi awal.
Fenomena ini menunjukkan betapa besar kepercayaan pasar modal China terhadap masa depan industri robot humanoid, sekaligus mengonfirmasi posisi Unitree sebagai salah satu nama paling dinanti di sektor teknologi tahun ini.
Bayang Bayang Ketegangan Dagang AS dan China
Di balik euforia pasar, IPO Unitree juga tidak lepas dari konteks geopolitik yang memanas antara Amerika Serikat dan China.
Belum lama ini, regulator telekomunikasi Amerika Serikat memasukkan robot humanoid dan robot berkaki empat buatan luar negeri ke dalam daftar yang dianggap berisiko terhadap keamanan nasional.
Langkah ini kemudian dibalas oleh pemerintah China dengan ancaman pembatasan ekspor dan sanksi balasan terhadap sejumlah perusahaan Amerika.
Bagi Unitree sendiri, penjualan ke pasar Amerika Serikat menyumbang sekitar 13,3 persen dari total pendapatan tahun lalu. Perusahaan menegaskan bahwa produk robot humanoid dan robot berkaki empat yang sudah beredar saat ini masih memiliki persetujuan resmi untuk dijual di Amerika Serikat.
Namun ada kekhawatiran bahwa model model generasi berikutnya berpotensi terganjal aturan baru dan tidak bisa lagi dipasarkan di sana.
Situasi ini menggambarkan betapa industri robot humanoid kini bukan hanya soal siapa yang punya teknologi paling canggih, tapi juga soal siapa yang bisa bertahan di tengah tarik menarik kepentingan dagang dan keamanan antar negara adidaya.
China Kuasai Pasar Robot Humanoid Dunia
Satu fakta yang sering luput dari perhatian, China saat ini menguasai sekitar 85 persen pangsa pasar robot humanoid global. Angka ini menunjukkan betapa dominannya posisi negara tersebut dalam rantai pasok, manufaktur, dan komersialisasi robot humanoid dibandingkan negara lain, termasuk Amerika Serikat.
Di sisi lain, perusahaan perusahaan Amerika seperti Tesla lewat proyek Optimus dan Figure AI juga terus menggenjot pengembangan robot humanoid mereka, lengkap dengan pendanaan besar besaran dan sorotan media yang tak kalah heboh.
Namun jika dibandingkan dari sisi traksi komersial nyata seperti jumlah unit yang benar benar terjual dan digunakan, Unitree dengan capaian 5.500 unit terkirim sepanjang 2025 menjadi salah satu bukti konkret bahwa persaingan ini bukan lagi soal siapa yang paling ramai diberitakan, melainkan siapa yang paling siap secara industri.
Bukan Cuma Unitree, Gelombang IPO Robotika China Sedang Bergulir
IPO Unitree juga menjadi bagian dari tren yang lebih besar. Sejumlah perusahaan robotika dan kecerdasan buatan asal China tengah berlomba lomba menuju pasar modal, mengingat persaingan di sektor embodied AI atau kecerdasan buatan yang menyatu dengan tubuh fisik robot semakin ketat.
Banyak pelaku industri menilai langkah cepat menuju IPO ini juga didorong oleh kekhawatiran akan terjadinya guncangan atau shakeout di sektor ini dalam waktu dekat, sehingga perusahaan perusahaan berlomba mengamankan modal segar selagi minat investor masih tinggi.
Sebagai perbandingan, minat investor ritel terhadap IPO Unitree bahkan disebut sempat mendekati rekor permintaan pada IPO pabrikan chip memori CXMT bulan sebelumnya, yang tercatat sebagai salah satu debut bursa terbesar kedua dalam sejarah pasar modal China.
Ini menunjukkan bahwa dana investor di China sedang mengalir deras ke sektor sektor yang dianggap sebagai masa depan teknologi, mulai dari semikonduktor hingga robotika.
Apa Artinya Bagi Masa Depan Industri Robot Humanoid
Melantainya Unitree di bursa Shanghai dengan valuasi Rp143 triliun bukan sekadar berita finansial biasa. Ini adalah penanda bahwa robot humanoid sudah bergeser dari sekadar proyek riset dan konten viral menjadi industri sungguhan yang menghasilkan pendapatan, laba, dan permintaan pasar nyata.
Bagi investor, kisah Unitree menjadi studi kasus menarik tentang bagaimana perusahaan teknologi tinggi bisa tumbuh cepat sekaligus tetap profitabel, sesuatu yang jarang ditemukan di industri startup teknologi pada umumnya.
Bagi pengamat geopolitik, langkah ini juga menjadi pengingat bahwa persaingan teknologi antara China dan Amerika Serikat kini merambah ke wilayah baru yang selama ini dianggap masih jauh dari kematangan komersial.
Satu hal yang pasti, dengan valuasi setinggi ini dan sambutan pasar yang begitu antusias, dunia kini punya alasan kuat untuk mengawasi lebih dekat langkah selanjutnya dari Unitree Robotics.
Apakah mereka akan mampu mempertahankan momentum pertumbuhan ini di tengah tekanan geopolitik dan persaingan global yang semakin ketat? Waktu yang akan menjawabnya.
