Table of Content

Dari SWIFT ke Ripple: Bagaimana XRP dan XRPL Mengubah Sistem Pembayaran Global?

SWIFT, Ripple, XRP, dan XRPL membentuk sistem pembayaran global yang lebih cepat, hybrid, dan real time 24 jam dalam 1 minggu.
Swift vs Ripple, XRP dan XRPL

Selama lebih dari 10 tahun, percakapan di dunia crypto hampir selalu berujung pada satu janji yang terdengar heroik: XRP akan “menggantikan SWIFT”. 

Janji itu mudah dijual. SWIFT lambat, mahal, dan bergantung pada rekening pre-funded di luar negeri. XRP Ledger (XRPL) menyelesaikan transaksi dalam hitungan detik dengan biaya yang nyaris tak terlihat. 

Kalau logika pasar bekerja seperti slogan pemasaran, pergeseran itu seharusnya sudah selesai.

Masalahnya, tahun 2026 memberi kita fakta yang lebih rumit dan jauh lebih menarik. SWIFT tidak runtuh. Ripple tidak “menang perang” dalam arti yang dibayangkan komunitas blockchain

Yang terjadi justru lebih dewasa: dua ekosistem yang semula diposisikan sebagai musuh mulai saling menempel, bersaing di beberapa koridor, dan berbagi nasabah yang sama. 

Pertanyaannya bukan lagi “siapa yang mengalahkan siapa”, melainkan bagaimana teknologi blockchain, aset digital, dan rel perbankan tradisional menyusun ulang pembayaran internasional.

Admin KhairPedia mengkaji pergeseran ini secara kritis, berdasarkan perkembangan terbaru seputar SWIFT, Ripple, XRP, dan teknologi XRPL.


SWIFT Bukan Bank, Tapi Rel yang Mengikat Dunia

SWIFT (Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication) sering disalahpahami sebagai “sistem transfer uang”. Padahal inti bisnisnya adalah pesan. 

Jaringan ini menghubungkan lebih dari 11.000 institusi keuangan di lebih dari 200 negara dan memproses puluhan juta pesan finansial setiap hari. Nilai aliran yang “duduk” di atas rel itu sangat besar dalam kisaran ratusan triliun dolar AS per tahun.

Kelemahan klasik SWIFT sudah diketahui publik: rantai koresponden yang panjang, rekening nostro/vostro yang mengunci modal, jendela operasional yang terikat hari kerja, serta ketidakpastian biaya di ujung perjalanan. 

SWIFT GPI memang memperbaiki visibilitas. Pada 2026, organisasi ini sendiri mengakui sekitar 75 persen pembayaran di jaringannya sudah sampai ke bank penerima dalam waktu 10 menit. Namun “last mile” proses validasi, kepatuhan, dan pengkreditan di rekening tujuan masih menyumbang sekitar 80 persen dari total waktu pembayaran.

Artinya, bottleneck utama bukan lagi “pesan tidak sampai”, melainkan settlement dan operasional di negara tujuan. Celah itulah yang selama ini menjadi ruang hidup XRP dan layanan On-Demand Liquidity (ODL) Ripple.

Di sisi standar data, SWIFT menyelesaikan migrasi ISO 20022 untuk pembayaran lintas negara pada November 2025. Standar ini memperkaya data pembayaran, memudahkan otomatisasi, dan secara tidak langsung membuat rel lama lebih “siap” untuk berinteraksi dengan aset digital. SWIFT tidak menunggu digantikan. Ia merapikan rumahnya dulu.

Ripple, XRP, dan XRPL: Pahami Perbedaan dan Fungsinya

Agar analisis lebih akurat dan tidak terjadi bias penafsiran, tiga entitas ini harus dipisahkan.

Ripple adalah perusahaan. Ia menjual perangkat lunak pembayaran, kustodi aset digital, lisensi, dan kini juga stablecoin. XRP adalah aset kripto native di XRPL. XRPL adalah ledger publik yang sudah beroperasi sejak 2012, dengan settlement sekitar 3–5 detik dan biaya dasar yang sangat rendah.

Model unggulan Ripple untuk pembayaran lintas negara adalah ODL, yang belakangan sering dibungkus dalam merek Ripple Payments. 

Alurnya sederhana: mata uang asal dikonversi ke XRP, XRP berpindah di ledger, lalu dikonversi ke mata uang tujuan. Janji utamanya bukan hanya kecepatan, melainkan penghapusan kebutuhan menahan saldo besar di rekening koresponden. 

Bagi bank dan perusahaan remitansi, modal yang “terjebak” di luar negeri adalah biaya tersembunyi yang jauh lebih besar daripada biaya pesan SWIFT.

Namun fakta operasional 2026 memaksa kita jujur: tidak semua klien Ripple memakai XRP. RippleNet sebagai jaringan pesan dan konektivitas institusi Ripple bisa berjalan tanpa token. 

Banyak kerja sama baru justru berputar di kustodi, tokenisasi, dan stablecoin RLUSD. Ini poin kritis bagi siapa pun yang menyamakan “Ripple menandatangani bank” dengan “permintaan XRP otomatis naik”.

Secara skala, celahnya masih lebar. Ripple sempat mengklaim volume pembayaran institusional kumulatif di atas 95 miliar dolar AS, dengan aliran ODL bulanan yang dalam beberapa laporan mencapai belasan miliar dolar. 

Angka itu signifikan untuk industri cryptocurrency, tetapi masih sepotong kecil jika dibandingkan pasar pembayaran lintas negara yang berputar di kisaran 130–150 triliun dolar per tahun.

“XRP Menggantikan SWIFT” Mitos atau Fakta?

Narasi penggantian total lahir dari diagnosis kecepatan proses transfer. Sistem koresponden memang boros modal. Settlement T+1 atau T+2 memang ketinggalan zaman di era perdagangan 24 jam. XRPL, sebagai infrastruktur blockchain yang dirancang khusus untuk pembayaran dan valuta, secara teknis memang lebih ramping.

Akan tetapi, sistem pembayaran global bukan hanya soal kecepatan ledger. Ada lisensi, sanksi, AML/CFT, tata kelola, tanggung jawab hukum, dan yang paling menentukan adalah efek jaringan. 

Bank tidak pindah rel hanya karena ada aset digital yang lebih cepat. Mereka pindah jika risiko operasional, kepatuhan, dan likuiditas bisa dikendalikan di dalam neraca mereka sendiri.

Sepanjang 2025–2026, dua hal meruntuhkan slogan lama. 

Pertama, bank-bank besar mulai membangun uang tokenized sendiri: deposito yang dijadikan token, tetap berada di neraca bank, dan bisa bergerak on-chain tanpa harus menyentuh crypto publik yang harganya berfluktuasi. 

Kedua, SWIFT memutuskan masuk ke wilayah yang selama ini menjadi bahan kampanye Ripple: pembayaran lintas negara secara real time selama 24 jam dalam seminggu.

Ripple Treasury bahkan bergabung ke SWIFT Certified Partner Program pada April 2026. Itu bukan gerakan “pengganti”, melainkan pengakuan bahwa akses ke 11.000-an institusi masih terlalu berharga untuk diabaikan.

CEO Ripple, Brad Garlinghouse, sempat mengulang diksi agresif “taking over SWIFT” pada April 2026. Di lapangan, strategi perusahaan sudah lebih pragmatik: masuk ke rel lama, jual produk yang bank mau beli, dan biarkan XRP dipakai di koridor yang memang membutuhkan jembatan likuiditas.


Langkah SWIFT ke Shared Ledger: Validasi Visi, Bukan Kemenangan XRP

Pada Sibos 2025, SWIFT mengumumkan rencana menambahkan shared ledger berbasis blockchain ke tumpukan infrastrukturnya. 

Desain diselesaikan Maret 2026. Pada Juli 2026, ledger itu mulai dipakai kelompok awal 17 bank dari enam benua, termasuk nama-nama seperti Citi, HSBC, Wells Fargo, UBS, Standard Chartered, MUFG, DBS, BNP Paribas, dan BNY.

Arsitekturnya penting untuk dipahami. Ledger SWIFT dibangun di fondasi sumber terbuka yang kompatibel EVM, berbasis Hyperledger Besu. Fungsinya lebih sebagai lapisan orkestrasi: mencatat komitmen antarbank, mencocokkan kewajiban, dan memungkinkan deposito tokenized saling “bicara”. 

Settlement akhir tetap bisa berlangsung di infrastruktur perbankan yang sudah ada. SWIFT tidak merancang sistem ini di sekitar XRP, RLUSD, USDC, atau aset publik lain. Yang bergerak adalah representasi digital dari uang bank.

Selanjutnya pada tanggal 19 Agustus 2026, ketika HSBC dan Standard Chartered mengeksekusi transaksi lintas negara live pertama di ledger itu. Ini bukan tes laboratorium lagi. Ini sinyal bahwa bank besar ingin menikmati manfaat teknologi blockchain : ketersediaan proses real time tanpa henti 24 dan selama 7 hari, likuiditas yang lebih gesit, pemrograman pembayaran tanpa menyerahkan kendali kepada token yang harganya ditentukan pasar kripto.

Bagi pemegang XRP, berita ini pahit jika dibaca sebagai “penggantian”. Bagi analis yang lebih dingin, ini justru validasi bahwa diagnosis Ripple sejak awal tidak konyol. 

Masalah pre-funding, cut-off time, dan settlement yang tidak atomic memang nyata. Hanya saja, jawaban institusi besar cenderung: “kami tokenisasi deposito kami sendiri.”

JPMorgan, lewat jaringan Kinexys, bahkan memperluas akun deposito on-chain ke delapan mata uang. Citi berbicara tentang jaringan 24/7 yang menekan pre-funding di puluhan pasar. Keunggulan XRP : menghemat modal kerja dan sedang ditiru dengan instrumen yang lebih “ramah regulator”.

Relevansi XRP dan XRPL

Apakah XRP kalah total? pertanyaan ini sama saja seperti pernyataan XRP akan menelan SWIFT. Ada zona di mana jembatan aset publik masih masuk akal.

Pertama, koridor yang likuiditas FXnya dangkal. Di jalur remitansi Asia, Amerika Latin, dan Afrika, bank koresponden tidak selalu tersedia dengan harga bagus. Di situ, ODL bisa menjadi jalur cepat tanpa harus menahan saldo di banyak yurisdiksi. Kemitraan yang secara publik terkait aliran XRP masih terlihat di nama-nama seperti SBI Remit, Bitso, dan Tranglo bukan di setiap siaran pers Ripple.

Kedua, last mile. Ketika SWIFT sendiri mengakui gesekan terbesar ada di ujung penerima, solusi yang menuntaskan kredit dana secara near real-time tetap punya pasar. Laporan media pada Agustus 2026 bahkan menyebut uji coba bank di Jepang yang menemukan rel berbasis XRP sekitar 60 persen lebih murah dibanding sistem lintas negara konvensional. 

Angka itu perlu dibaca lebih detail dari ranah volume dan metodologi yang tidak selalu transparan, tetapi arahnya konsisten dengan klaim efisiensi di pasar remitansi.

Ketiga, XRPL bukan hanya “rel XRP”. Ledger ini sudah punya DEX native, AMM, permissioned DEX untuk pelaku yang butuh gerbang KYC, Multi-Purpose Token, serta sisi EVM yang dihubungkan lewat Axelar. 

Ripple juga mendorong RLUSD sebagai aset settlement yang harganya stabil. Di kuartal II 2026, pasokan stablecoin native di XRPL melonjak tajam, dipimpin RLUSD. 

Total nilai RLUSD di XRPL dan Ethereum sempat berada di kisaran 1,7 miliar dolar, dan pada akhir Agustus 2026 pasokan RLUSD di XRPL sendiri menembus 1 miliar dolar menurut laporan pasar.

Jepang menjadi contoh penting. Setelah persetujuan JFSA, RLUSD didistribusikan lewat SBI. Itu bukan “XRP takeover”, tetapi pembangunan rel aset digital yang diatur di salah satu pasar historis XRP paling dalam.

Keempat, inovasi protokol terus berjalan: lending on-chain yang lebih institusional, Smart Escrow, rencana kurva AMM yang lebih efisien untuk pasangan stablecoin dan FX, plus wacana ketahanan kuantum menuju 2028. 

XRPL memilih jalan yang berbeda dari Ethereum. Mainnet-nya menghindari smart contract serba guna agar permukaan serangan tetap kecil. Fleksibilitas penuh dialihkan ke EVM sidechain. Bagi bank, kesederhanaan itu kadang lebih berharga daripada komposabilitas DeFi yang rumit.


Siapa yang Sebenarnya Mengubah Sistem?

Kesampingkan fanatisme dan idealisme pada 1 instrumen, peta 2026 memperlihatkan tiga kekuatan yang saling menekan.

SWIFT mengubah sistem dari dalam. Ia punya efek jaringan yang hampir mustahil ditiru startup fintech. Dengan menambahkan ledger, ISO 20022, dan skema pembayaran ritel yang lebih cepat, SWIFT berusaha menjadi lapisan interoperabilitas antar-ledger bank. 

Ini strategi bertahan yang cerdas: "jangan lawan blockchain, telan fungsinya".

Bank besar mengubah sistem lewat tokenisasi neraca. Deposito tokenized dan jaringan internal seperti Kinexys menyerang proposisi nilai XRP di jantungnya yaitu kebutuhan akan aset jembatan. 

Jika bank bisa memindahkan klaim deposito secara 24/7 tanpa risiko harga crypto, alasan memakai XRP menyempit ke koridor yang benar-benar kekurangan likuiditas.

Ripple mengubah sistem sebagai vendor, bukan sebagai revolusioner. Perusahaan ini sekarang menjual apa yang bank beli: kustodi, kepatuhan, stablecoin, konektivitas, dan hanya jika perlu XRP.

 Kemitraan 2026 dengan Jeonbuk Bank di Korea Selatan, ekspansi di Afrika lewat Flutterwave, serta deretan kerja sama kustodi menunjukkan Ripple semakin nyaman di meja institusi. Tetapi banyak pengumuman itu tidak menyebut XRP sebagai aset settlement. Pemegang token yang mengira setiap nota kerja sama sama dengan pembelian XRP sedang membaca peta lama.

Status hukum juga sudah bergeser. Gugatan SEC yang dimulai akhir 2020 berakhir pada 2025 setelah banding ditarik. Putusan yang berdiri: penjualan XRP di pasar sekunder/programatik bukan kontrak investasi, sementara penjualan institusional tertentu dianggap pelanggaran. 

Denda perdata sekitar 125 juta dolar AS dan injunction terkait penjualan institusional tidak terdaftar tetap menjadi bagian putusan. Ketidakpastian hukum yang bertahun-tahun menekan adopsi di AS mereda, meski kerangka “transaksi menentukan status” itu tetap membuat bank berhati-hati.

Visi Ripple tentang Internet of Value, uang bergerak secepat data yang kini diterima kalangan perbankan. 

Instrumen yang mereka pilih untuk mewujudkan visi itu belum tentu XRP. Bahkan produk Ripple sendiri, RLUSD, bisa menjadi kompetitor internal bagi utilitas XRP di koridor tertentu.

Apa Artinya bagi Pasar Berkembang, Termasuk Indonesia?

Bagi negara dengan arus remitansi besar dan UMKM yang hidup dari perdagangan lintas batas, perang rel ini bukan drama di Media Sosial seperti di X. Ini soal biaya kirim uang, modal kerja importir, dan kepastian waktu bayar.

Indonesia dan kawasan ASEAN sudah lama menjadi laboratorium ODL. Koridor Jepang–Filipina, Thailand, dan jalur Asia Tenggara menunjukkan bahwa pembayaran internasional bisa lebih murah jika likuiditas on-demand benar-benar dipakai, bukan hanya dipiloti. 

Namun adopsi di level bank besar tetap selektif. Alasan utamanya bukan teknologi XRPL yang lemah, melainkan tata kelola, ketersediaan market maker, dan preferensi memakai instrumen yang nilainya tidak bergerak liar.

Masa depan yang paling masuk akal bukan “satu rel menelan yang lain”, melainkan tumpukan:

  • SWIFT tetap menjadi tulang punggung pesan dan kepatuhan.
  • Ledger bank dan deposito tokenized menangani aliran antar-institusi besar.
  • Stablecoin teregulasi (termasuk RLUSD) menangani settlement yang butuh kepastian harga.
  • XRP tetap relevan sebagai jembatan di koridor terfragmentasi, plus sebagai aset native yang membayar biaya dan menopang likuiditas di XRPL.
  • Tokenisasi RWA, surat berharga, dan kredit on-chain menambah utilitas ledger di luar remitansi.

Bagi pelaku investasi crypto, membedakan “adopsi Ripple sebagai perusahaan” dan “permintaan struktural terhadap XRP” adalah disiplin yang wajib. Bagi pelaku usaha, yang penting bukan logo di siaran pers, melainkan apakah dana sampai dalam menit, dengan biaya transparan, dan tanpa modal mengendap di rekening koresponden.


Penutup: Bukan Menciptakan Persaingan, Tapi Renovasi Rel Uang

“Dari SWIFT ke Ripple” kedengarannya seperti istilah "perpindahan rezim". Fakta 2026 lebih mirip renovasi rumah tua yang tiba-tiba dipasangi listrik pintar. SWIFT tidak pergi. Ripple tidak “mengambil alih dunia”, dan XRPL tidak otomatis menjadi settlement layer tunggal.

Yang berubah adalah standar harapan. Pembayaran lintas negara yang tidak ada kepastian hari dan mengunci likuiditas mulai terlihat usang. 

Teknologi blockchain sudah lolos dari tahap slogan. Pertarungan berikutnya adalah soal siapa yang mengendalikan aset settlement: token publik seperti XRP, stablecoin perusahaan, atau deposito bank yang ditokenisasi.

XRP dan XRPL memaksa sistem lama bergerak. SWIFT dan bank-bank besar kemudian membuktikan bahwa mereka bisa meniru sebagian keunggulan itu tanpa menyerahkan kendali. 

Hasilnya bukan kemenangan mutlak satu kubu, melainkan sistem pembayaran global yang lebih hybrid, lebih 24/7, dan perlahan lebih dekat dengan janji Web3: nilai berpindah tanpa harus menunggu pagi di zona waktu orang lain.

Itu bukan ending dari "Sistem Pembayaran Global" yang dramatis. Tapi pada sistem keuangan internasional, endingnya yang tidak dramatis justru lebih dekat dengan kenyataan. #KhairPedia

Posting Komentar