Table of Content

Perang Moneter AS vs China 2026: Stablecoin, Crypto vs Emas, DeDolarisasi di Depan Mata

China dan Jepang jual Treasury AS demi cadangan emas ke rekor tertinggi. AS lawan dengan Stablecoin. Analisis lengkap perang moneter 2026 ada di sini.
Stablecoin Crypto vs Emas

Pasar keuangan global sedang menghadapi pergeseran besar yang jarang dibahas secara terbuka. Jepang dan China, dua pemegang utang Amerika Serikat terbesar di dunia, sama-sama mengurangi kepemilikan Treasury AS dalam beberapa bulan terakhir. 

Di saat yang sama, keduanya menumpuk emas ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sementara itu, pemerintahan Trump mendorong stablecoin sebagai senjata baru untuk mempertahankan dominasi dolar. 

Inilah yang disebut sebagai awal dari perang moneter antara AS dan China, sebuah pertarungan yang tidak menggunakan tank atau tarif dagang (Perang Dagang), melainkan melalui Neraca Bank Sentral.

Sinyal yang Bikin Trader Waspada

Ada potensi gejolak pasar AS, dengan alasan dua kekuatan ekonomi terbesar dunia saling menjauh dari obligasi pemerintah AS

Argumennya sederhana, ketika FAKTA dan DATA menunjukkan negara sebesar Jepang dan China secara masif melepas Treasury dan mengalihkannya ke aset keras (logam) seperti emas, itu adalah bentuk mosi tidak percaya terhadap arah kebijakan fiskal dan moneter Amerika Serikat, bukan sekadar rotasi portofolio biasa. #KhairPedia


Jepang Terjebak Lingkaran Setan Jual Obligasi

Data resmi Departemen Keuangan AS memang menunjukkan tren yang konsisten. Kepemilikan Treasury oleh Jepang turun dari sekitar US$ 1,24 triliun pada awal 2026 menjadi US$ 1,11 triliun pada Juni 2026. 

Sepanjang kuartal pertama 2026 saja, investor Jepang melepas US$ 29,6 miliar obligasi AS, penjualan kuartalan terbesar sejak 2022, dan pada bulan Maret sendirian angkanya mencapai US$ 47,7 miliar.

Penyebabnya bukan semata pilihan investasi bebas. Bank of Japan memangkas pembelian obligasi pemerintah domestik dari sekitar ¥5,7 triliun per bulan menjadi hanya ¥2,9 triliun, membuat imbal hasil obligasi Jepang melonjak ke level tertinggi sejak akhir tahun 1990an. 

Yield obligasi 10 tahun Jepang sempat menembus 2,6 persen, sementara yield 30 tahun tembus 4 persen. Di sisi lain, pelemahan yen memaksa Jepang berulang kali melakukan intervensi pasar, dan sebagian dana intervensi itu berasal dari pencairan cadangan Treasury AS. 

Bulan Mei saja, cadangan sekuritas asing Jepang turun US$ 75,6 miliar, sejalan dengan intervensi valuta asing senilai ¥11,73 triliun untuk menahan pelemahan yen.

Inilah yang disebut dengan lingkaran setan. Jepang menjual Treasury untuk membela yen, penjualan itu menekan harga obligasi AS dan menaikkan yield, yield yang tinggi menarik modal kembali ke aset dolar, yen makin tertekan, dan Jepang terpaksa intervensi lagi dengan cara yang sama.

China Dalam Senyap Menumpuk Emas ke Rekor Tertinggi

Ketika Jepang bergerak karena tekanan pasar, langkah China terlihat lebih strategis dan terencana.

People's Bank of China atau PBOC mencatat pembelian emas selama lebih dari 20 bulan beruntun, dengan total cadangan resmi mencapai sekitar 2.366 ton pada pertengahan 2026, menurut data yang dirilis World Gold Council. 

Yang menarik, PBOC tetap agresif membeli emas bahkan ketika harga emas sempat terkoreksi tajam pada kuartal kedua 2026. Ini menjadi indikasi bahwa pembelian emas bukan sekadar spekulasi harga, melainkan strategi jangka panjang untuk mendiversifikasi cadangan devisa dari aset berbasis dolar.

Harga emas sedang berada dalam tren naik yang luar biasa sepanjang 2026. Emas dunia sempat mencetak rekor US$ 5.589 per ons pada akhir Januari 2026, dan pada awal September 2026 masih bertahan di kisaran US$ 4.470 per ons, naik lebih dari 26 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. 

Di dalam negeri, harga emas Antam bahkan sempat menembus rekor Rp 3.168.000 per gram pada akhir Januari 2026. Tren ini membuat makin banyak masyarakat melirik investasi emas sebagai pelindung nilai di tengah ketidakpastian global.

China juga membangun infrastruktur fisik untuk mendukung ambisi ini. Melalui Shanghai Gold Exchange, China telah membuka vault emas lepas pantai pertamanya di Hong Kong, dengan target kapasitas penyimpanan lebih dari 2.000 ton hingga tahun 2030, dan sedang menjajaki lokasi tambahan di Singapura, Dubai, Riyadh, hingga Moskow. 

TUJUANNYA SANGAT JELAS: membangun jaringan penyelesaian transaksi berbasis yuan dan emas fisik yang benar benar bisa dikirim, sebagai alternatif dari sistem yang selama ini bergantung pada dolar.

Kenapa Emas, Bukan Aset Lain?

Emas dipilih karena statusnya sebagai aset netral tanpa risiko gagal bayar pihak lawan atau counterparty risk. 

Survei World Gold Council tahun 2026 menemukan bahwa 89 persen manajer cadangan bank sentral dunia memperkirakan kepemilikan emas resmi akan terus meningkat dalam 12 bulan ke depan. 

Ini menjadi alasan kuat kenapa permintaan logam mulia diperkirakan tetap kuat meski suku bunga global bergerak fluktuatif.


Balasan Amerika, Dolar Digital Lewat Stablecoin

Di sisi lain meja, pemerintahan Trump punya strategi berbeda untuk mempertahankan status dolar sebagai mata uang cadangan dunia. 

Amerika tidak bisa mencetak emas, tapi bisa menciptakan permintaan baru terhadap utangnya sendiri lewat stablecoin

Menteri Keuangan AS Scott Bessent secara terbuka menegaskan bahwa dolar akan tetap menjadi mata uang cadangan dunia, dan stablecoin menjadi salah satu instrumen utama pemerintah AS untuk mewujudkan hal itu.

Kerangka hukumnya sudah berjalan lewat GENIUS Act yang ditandatangani pada Juli 2025, yang mewajibkan penerbit stablecoin patuh untuk menjamin token mereka satu banding satu dengan kas dan Treasury bill jangka pendek. 

Hasilnya terlihat nyata, total kapitalisasi pasar stablecoin berbasis dolar melewati US$ 300 miliar sepanjang 2026, dengan Tether atau USDT sekitar US$ 142 miliar dan USDC sekitar US$ 60 hingga 78 miliar. 

Yang lebih mengejutkan, penerbit stablecoin kini masuk jajaran sepuluh besar pembeli surat utang negara AS, sejajar dengan negara seperti Jerman dalam skala kepemilikan Treasury.

Logikanya sederhana namun efektif: Miliaran orang di seluruh dunia yang tidak punya akses ke rekening bank AS tetap bisa memegang token dolar digital. 

Setiap token baru yang diterbitkan membutuhkan cadangan berupa Treasury, sehingga pertumbuhan kripto berbasis dolar ini justru menciptakan pembeli baru untuk obligasi pemerintah AS, sekaligus menggantikan sebagian permintaan yang hilang dari Jepang dan China.

Strategi ini tidak lepas dari risiko. Aturan turunan GENIUS Act ditargetkan rampung pada pertengahan 2026, dengan penegakan penuh baru berlaku awal 2027, sehingga masih ada celah abu abu terkait komposisi cadangan dan pengawasan lintas lembaga selama masa transisi. 

Jika terjadi gelombang penarikan dana besar besaran atau Redemption RUN pada salah satu penerbit stablecoin utama, mereka bisa terpaksa melepas Treasury dalam jumlah besar secara mendadak, yang justru bisa memperkuat tekanan jual di pasar obligasi, bukan meredakannya. 

Beberapa varian stablecoin berbunga seperti USDY dan sUSDS juga tumbuh sangat cepat di luar kerangka utama GENIUS Act, dan regulator masih mengkaji apakah produk semacam ini perlu aturan tambahan lewat rancangan undang undang lanjutan.


Dua Strategi, Satu TUJUAN Besar

Di sinilah inti dari apa yang disebut sebagai "Perang moneter 2026". Satu pihak mendigitalkan utangnya lewat crypto agar tetap punya pembeli baru, pihak lain menumpuk logam fisik yang tidak bisa dicetak sembarangan oleh siapa pun. 

Kepala keuangan London Metal Exchange bahkan dilaporkan pindah ke perusahaan yang fokus pada tokenisasi komoditas, sementara China terus memperluas jaringan penyelesaian yuan dan emas.

Pertanyaan INTI: "Sistem mana yang akan lebih dipercaya dunia saat guncangan finansial berikutnya benar benar terjadi?"

Argumen Pendukung Dominasi Dolar Tetap Bertahan

Sejumlah ekonom menilai kekhawatiran soal keruntuhan dolar terlalu berlebihan. Dolar AS masih mendominasi lebih dari setengah cadangan devisa dunia, pasar obligasi pemerintah AS tetap paling likuid di dunia, dan stablecoin justru memperluas jangkauan dolar ke miliaran pengguna baru lewat jalur kripto, bukan menggantikannya. 

Selama permintaan global terhadap dolar untuk perdagangan dan penyelesaian transaksi tetap tinggi, transisi ke sistem lain dianggap masih membutuhkan waktu puluhan tahun ke depan.

Argumen Pendukung Skenario De-Dolarisasi

Di sisi lain, sejumlah analis melihat pola penjualan Treasury oleh pemegang asing terbesar sebagai sinyal struktural, bukan sekadar fluktuasi jangka pendek biasa. 

Kombinasi defisit fiskal AS yang terus membesar, yield yang naik, dan pembelian emas bank sentral yang konsisten selama lebih dari 20 bulan berturut turut dianggap sebagai bukti bahwa sebagian dunia sedang mendiversifikasi cadangan mereka secara bertahap, menjauh dari ketergantungan penuh pada dolar.

Penting dicatat, prediksi soal pasar AS yang akan bergejolak parah saat dibuka kembali bersifat opini dan analisis pribadi, bukan proyeksi resmi lembaga keuangan mana pun. 

Pergerakan pasar jangka pendek sangat dipengaruhi banyak variabel dan sulit diprediksi secara pasti, sehingga informasi semacam ini sebaiknya dijadikan bahan pertimbangan tambahan, bukan dasar tunggal pengambilan keputusan finansial.

Apa Artinya Buat Investor di Indonesia?

Bagi masyarakat Indonesia, dinamika ini punya dampak yang cukup nyata dalam kehidupan sehari hari. 

Kenaikan harga emas dunia ikut mengerek harga emas Antam , emas Galeri24 dan logam mulia di dalam negeri, membuat instrumen ini makin diminati sebagai bagian dari diversifikasi portofolio keluarga. 

Di sisi lain, ketidakpastian arah kurs dolar dan kebijakan suku bunga The Fed turut memengaruhi nilai tukar rupiah, harga barang impor, hingga arus modal asing di pasar saham dan reksadana domestik.

Minat terhadap trading crypto dan stablecoin di Indonesia juga diperkirakan terus tumbuh, terlebih dengan makin jelasnya regulasi di AS lewat GENIUS Act yang kemungkinan akan memengaruhi arah kebijakan aset digital di berbagai negara, termasuk pengawasan OJK dan Bappebti terhadap exchange kripto lokal. 

Bagi yang sedang mempertimbangkan opsi investasi, penting dipahami bahwa emas, stablecoin, dan aset crypto punya profil risiko yang sangat berbeda satu sama lain, dan tidak ada satu pun aset yang benar benar bebas risiko sepenuhnya.

Sebagai gambaran, masyarakat yang ingin ikut memanfaatkan tren kenaikan harga emas tanpa membeli fisik bisa mempelajari skema tabungan emas atau cicilan emas yang kini banyak ditawarkan lewat aplikasi digital. 

Sedangkan bagi yang lebih tertarik pada instrumen berbasis utang pemerintah, Surat Berharga Negara (SBN) ritel juga menjadi alternatif yang relevan untuk dipelajari, mengingat topik permintaan Treasury global sedang ramai dibahas. 

Sebelum memutuskan alokasi dana ke emas, SBN, reksadana, maupun aset kripto, membandingkan likuiditas, potensi imbal hasil, dan tingkat risiko masing masing instrumen tetap menjadi langkah dasar yang tidak boleh dilewatkan.


(FAQ) : Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa itu stablecoin dan kenapa dikaitkan dengan Treasury AS?

Stablecoin adalah aset kripto yang nilainya dipatok ke mata uang tertentu, biasanya dolar AS. 

Berdasarkan aturan GENIUS Act, penerbit stablecoin wajib menyimpan cadangan berupa kas dan Treasury bill jangka pendek, sehingga pertumbuhan stablecoin secara otomatis menciptakan permintaan baru terhadap surat utang pemerintah AS.

Kenapa China terus membeli emas meski harganya sedang tinggi?

PBOC memandang pembelian emas sebagai strategi diversifikasi cadangan devisa jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada aset dolar, bukan sebagai spekulasi harga jangka pendek. 

Itu sebabnya pembelian tetap berlanjut bahkan saat harga emas sempat terkoreksi cukup dalam.

Apakah dolar AS benar benar terancam kehilangan status mata uang cadangan dunia?

Sampai saat ini belum ada bukti kuat bahwa dolar akan segera kehilangan dominasinya. 

Yang terjadi lebih tepat disebut sebagai diversifikasi bertahap oleh sejumlah negara, sementara AS sendiri berupaya memperkuat posisi dolar lewat ekosistem stablecoin yang terus berkembang.

Apakah sekarang waktu yang tepat untuk investasi emas?

Keputusan investasi sebaiknya disesuaikan dengan tujuan keuangan, profil risiko, dan jangka waktu masing masing individu. 

Tren kenaikan harga emas tidak menjamin kenaikan akan terus berlanjut, sehingga riset mandiri atau konsultasi dengan penasihat keuangan tetap dianjurkan sebelum mengambil keputusan apa pun.

Kesimpulan

Perang moneter antara AS dan China bukan lagi sekadar teori konspirasi, melainkan pola yang bisa dilacak lewat data resmi Departemen Keuangan AS, PBOC, dan World Gold Council. Perang dagang mulai mereda, saatnya mulai dengan perang moneter.

Amerika Serikat berperang dengan mendigitalkan utangnya lewat Stablecoin (GENIUS Act) dan Crypto (RUU pendamping CLARITY Act masih menunggu voting Senat pada 15 September 2026, berfokus membenahi struktur pengawasan pasar kripto). 

Sedangkan China berperang dengan menambah cadangan emas fisik sebagai jaring pengaman jangka panjang. 

Bagi investor maupun masyarakat umum, perkembangan ini layak terus dipantau, bukan untuk ikut panik, tetapi untuk memahami arah pergeseran tatanan keuangan global yang sedang berlangsung secara perlahan namun pasti. #KhairPedia

Post a Comment