Penutupan mesin ATM bukanlah tanda kemunduran, melainkan transisi besar menuju ekosistem keuangan digital yang lebih efisien, cepat, dan terintegrasi. Berdasarkan sumber dari "https://www.ojk.go.id/" bahwa Laporan Surveillance Perbankan Indonesia OJK menyebutkan jumlah mesin ATM, Cash Recycling Machine (CRM) dan Cash Deposit Machine (CDM), hingga kuartal III 2025 tercatat sebanyak 89.774 unit.
Terjadi penurunan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya sebanyak 91.173 unit. Dengan demikian, mesin yang beroperasi menurun atau sudah dikurangi mencapai 1.399 unit hanya dalam periode satu tahun saja.
Dalam 10 tahun terakhir, arah core bisnis perbankan Indonesia mengalami perubahan paling drastis sepanjang sejarahnya. Jika dahulu ATM (Anjungan Tunai Mandiri) menjadi simbol modernisasi layanan bank, saat ini justru keberadaannya perlahan menyusut.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan ribuan ATM tidak lagi beroperasi, seiring lonjakan transaksi digital dan nontunai yang semakin masif. Fenomena ini bukan sekadar pengurangan mesin, melainkan cerminan perubahan perilaku masyarakat dalam bertransaksi.
Ribuan ATM Tak Lagi Beroperasi, Apa yang Terjadi?
Penurunan ini diprediksi akan terus berlanjut, seiring bank melakukan efisiensi infrastruktur fisik dan mengalihkan investasi ke layanan digital. ATM yang dahulu menjadi tulang punggung layanan tarik tunai, kini semakin jarang digunakan, terutama di wilayah perkotaan.
Dari sisi teknologi, biaya operasional ATM tidak kecil. Bank harus menanggung:
pemeliharaan mesin,
pengisian uang tunai,
keamanan fisik,
jaringan komunikasi,
serta risiko vandalisme dan skimming.
Ketika transaksi digital mampu menggantikan fungsi ATM dengan biaya jauh lebih rendah, keputusan pengurangan mesin menjadi langkah rasional secara bisnis.
Lonjakan Transaksi Nontunai Menjadi Pemicu Utama
Salah satu faktor terbesar penurunan jumlah ATM adalah meningkatnya transaksi nontunai. Pembayaran QRIS, mobile banking, internet banking, hingga dompet digital kini mendominasi transaksi harian masyarakat.
Kini, aktivitas yang dulu mengharuskan ke ATM seperti transfer antarbank, cek saldo, hingga pembayaran tagihan cukup dilakukan lewat ponsel. Bahkan, fitur seperti cardless BCA memungkinkan nasabah melakukan tarik tunai tanpa kartu ATM sama sekali.
Bagi generasi muda (Gen Z), ATM bukan lagi kebutuhan utama, melainkan opsi cadangan.
Perubahan Perilaku Nasabah, Dari Kartu ke Aplikasi
Di media sosial seperti X (Twitter), Facebook, dan TikTok, sering dijumpai obrolan viral yang menyoroti dua sisi fenomena ini. Sebagian pengguna menyambut baik berkurangnya ATM karena transaksi menjadi lebih praktis. Namun, tidak sedikit pula keluhan dari nasabah, terutama:
masyarakat lansia,
pelaku UMKM konvensional,
warga di daerah pinggiran.
Keluhan yang sering muncul antara lain:
ATM jauh dan sulit ditemukan,
ATM sering offline atau kehabisan uang,
kartu ATM terblokir dan sulit diurus,
kebingungan dengan fitur digital seperti cara membuat ATM BRI online atau cara membuat ATM Mandiri online.
Fenomena ini menunjukkan bahwa transformasi digital belum sepenuhnya inklusif.
Digitalisasi Perbankan, Efisiensi vs Aksesibilitas
Dari perspektif IT perbankan, digitalisasi membawa banyak keuntungan:
transaksi real-time,
biaya operasional lebih rendah,
keamanan berbasis enkripsi,
integrasi lintas layanan.
Namun, tantangan terbesarnya adalah kesenjangan literasi digital. Tidak semua nasabah siap beralih penuh ke layanan digital. Inilah alasan mengapa ATM belum sepenuhnya ditinggalkan, meski jumlahnya terus menurun.
Bank kini lebih selektif menempatkan ATM, fokus di lokasi strategis seperti pusat perbelanjaan, rumah sakit, dan area transportasi publik.
ATM di Era Baru antara Tidak Hilang namun Berubah
Perlu dipahami, ATM tidak benar-benar “game over”. Hanya berevolusi. Kini muncul:
ATM setor tarik tanpa kartu
ATM berbasis biometrik
ATM digital milik bank digital dan mitra fintech, seperti ATM SeaBank
ATM bukan lagi pusat transaksi utama, melainkan bagian dari ekosistem layanan yang lebih luas.
Cara Membuat ATM Online dan Alternatifnya
Meskipun jumlah mesin ATM mengalami penurunan, namun masih banyak minat tinggi calon nasabah untuk membuat ATM Online, misalnya:
cara membuat ATM online
cara membuat ATM BRI online
cara membuat ATM Mandiri online
Faktanya, proses kepemilikan kartu ATM kini bisa dimulai dari aplikasi mobile banking. Nasabah cukup:
Mengunduh aplikasi bank,
Melakukan verifikasi identitas,
Mengaktifkan rekening,
Menggunakan fitur cardless atau memesan kartu fisik jika diperlukan.
Bagi nasabah yang jarang menggunakan tarik tunai, kartu ATM bahkan tidak lagi wajib.
Solusi Alternatif Pengganti ATM di Tengah Masyarakat
Menurunnya jumlah ATM mendorong munculnya solusi alternatif yang lebih dekat dengan masyarakat. Salah satunya adalah layanan transaksi digital berbasis Agen atau Kios.
Layanan Alternatif di Kios KhairPedia Boyolali
Sebagai contoh nyata, Kios KhairPedia yang berlokasi di Jalan Pahlawan Boyolali, depan Alfamart Pahlawan, hadir sebagai solusi pengganti fungsi ATM konvensional. Layanan tarnsaksi keuangan digital meliputi:
Transfer ke semua bank
Tarik tunai dari berbagai rekening bank
Top up saldo dompet digital (GoPay, DANA, ShopeePay, OVO, dll)
Nominal fleksibel, bisa mulai dari Rp5.000 dan tanpa batas kelipatan (Bebas)
Kirim uang ke rekening bank manapun
Model seperti ini menjadi jembatan antara dunia digital dan kebutuhan transaksi tunai masyarakat, khususnya di daerah yang ATM-nya semakin terbatas.
Masa Depan Transaksi Perbankan di Indonesia
Berdasarkan tren saat ini, OJK memprediksi jumlah ATM nasional akan terus menurun. Namun, yang meningkat adalah:
transaksi digital,
layanan cardless,
agen laku pandai,
kios transaksi digital,
serta integrasi bank dengan fintech.
Bagi nasabah, kunci utamanya adalah adaptasi. Bagi bank, tantangannya adalah memastikan transformasi digital tetap inklusif dan tidak meninggalkan kelompok tertentu.
Kesimpulan
Penutupan ribuan ATM bukan sekadar pengurangan mesin, melainkan simbol perubahan besar dalam cara Nasabah bertransaksi. Digitalisasi perbankan telah menggeser peran ATM dan anjungan tunai mandiri dari pusat layanan menjadi pelengkap ekosistem digital.
Meski tarik tunai masih dibutuhkan, masa depan perbankan jelas mengarah ke transaksi tanpa kartu, tanpa uang fisik, dan tanpa batas lokasi. Dengan hadirnya layanan alternatif seperti kios transaksi digital, masyarakat tetap memiliki pilihan di tengah perubahan ini.
Transformasi ini tidak bisa dihindari, namun yang terpenting adalah bagaimana semua pihak dapat beradaptasi secara adil dan berkelanjutan.
https://koran-jakarta.com/2026-01-26/atm-terus-menyusut-ojk-era-tarik-tunai-mulai-ditinggalkan
Dokumentasi dan laporan OJK tentang digitalisasi sistem pembayaran nasional.
